Ganjar Tawarkan Koalisi Bencana sebagai Jawaban atas Usulan Koalisi Permanen

- Minggu, 07 Desember 2025 | 07:55 WIB
Ganjar Tawarkan Koalisi Bencana sebagai Jawaban atas Usulan Koalisi Permanen

Usulan soal koalisi permanen yang dilontarkan Bahlil Lahadalia di hadapan Presiden Prabowo Subianto mendapat respons menarik dari Ganjar Pranowo. Ketua DPP PDIP itu justru mengajak semua pihak untuk membangun koalisi lain: koalisi menghadapi bencana.

"Mari kita urus bencana. Bantu rakyat," ujar Ganjar, Minggu (7/12/2025).

Ia menekankan, fokus utama saat ini seharusnya adalah penanganan bencana, bukan urusan politik. Menurutnya, momentum ini harus dimanfaatkan untuk bersatu membantu masyarakat yang terdampak.

"Kita bangun koalisi untuk hadapi bencana. Harus (fokus urus bencana)," tegasnya.

Gagasan Koalisi Permanen di HUT Golkar

Gagasan Bahlil sendiri disampaikan dalam puncak HUT Partai Golkar ke-61 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat lalu. Di hadapan Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang hadir, Ketua Umum Golkar itu mengusulkan pembentukan koalisi permanen untuk mendukung pemerintahan.

"Partai Golkar berpandangan Bapak Presiden, bahwa pemerintahan yang kuat dibutuhkan stabilitas. Lewat mimbar yang terhormat ini izinkan kami memberikan saran perlu dibuatkan koalisi permanen," kata Bahlil.

Ia tampaknya tak ingin ada lagi dinamika partai yang keluar-masuk dari koalisi pendukung pemerintah. Soliditas, baginya, adalah kunci.

"Jangan koalisi in-out, jangan koalisi di sana senang di sini senang di mana-mana hatiku senang," tuturnya dengan gaya bicara yang khas.

Lalu ia melanjutkan, "Sudah harus kita mempunyai prinsip yang kuat untuk meletakkan kerangka koalisi yang benar, kalau menderita, menderita bareng-bareng. Kalau senang, senang bareng-bareng, dan ini dibutuhkan gentleman, dibutuhkan gentleman yang kuat."

Nah, di tengah wacana itu, ajakan Ganjar untuk berkoalisi tangani bencana seperti menyodorkan perspektif yang berbeda. Seolah mengingatkan bahwa di luar gedung Istora, ada pekerjaan lain yang lebih mendesak menunggu.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar