"Kita kan tahu sistem presidensial kita multipartai. Soliditasnya selalu diuji setiap tahun politik. Sekarang mungkin stabil, dan bicara soal permanen. Tapi nanti?" ujarnya menambahkan.
Menurutnya, situasi bisa berubah total saat mendekati Pemilu 2029. Ada faktor lain yang tak boleh diabaikan: kekuatan masyarakat sipil. Gerakan mereka, lewat aksi massa atau gelombang opini di media sosial, terbukti cukup solid dan berpengaruh. Pengaruhnya signifikan, tak bisa dipandang sebelah mata.
Ujian sebenarnya bagi wacana koalisi permanen, dalam pandangan Agung, bukan terjadi dalam waktu dekat. Gonjang-ganjing masalah biasanya muncul di tahun-tahun politik. Maka, ujian sesungguhnya akan datang dalam jangka menengah, atau tepatnya ketika jelang 2029 nanti. Saat itulah ketahanan sebuah ikatan "permanen" benar-benar diukur.
Artikel Terkait
Petugas Pengadilan Negeri Jakpus Main Game Saat Jam Kerja, Pihak Pengadilan Lakukan Penelusuran
Arus Mudik Lebaran di Stasiun Jakarta Capai 52 Ribu Penumpang per Hari
Harga Sembako Melonjak di Pasar Lebak Jelang Idulfitri 2026
Karyawan Freeport Indonesia Santuni 700 Anak Yatim dan Dhuafa di Momen Ramadan