Menanggapi harapan yang disampaikan PPI Dunia, Hidayat mengakui betapa pentingnya peran mahasiswa. Mereka menguasai banyak hal: kondisi lapangan, bahasa, bahkan sampai detail fikih haji. Karena itu, ia berharap kontribusi mereka nggak cuma seputar urusan logistik, tapi juga menyentuh aspek spiritual ibadah itu sendiri.
“Saya sudah perjuangkan, dan alhamdulillah Komisi VIII bersama Kementerian Haji dan Umrah sudah sepakat menjadikannya sebagai keputusan yang mengikat,” jelas Hidayat.
“Masalahnya sekarang ada di tangan Kementerian Haji kita dan Kerajaan Arab Saudi. Mereka yang berwenang menentukan jumlah petugas haji untuk tahun 2026. Manfaatnya jelas besar untuk kesuksesan haji nanti.”
Ia juga mengajak para mahasiswa untuk ikut mengawal upaya ini dengan doa. Sebelumnya, dalam rapat kerja dengan Menteri Haji dan Umrah awal November lalu, Hidayat memang mati-matian memperjuangkan dua hal: peningkatan layanan haji 2026 dan yang tak kalah penting, penambahan kuota petugas dari unsur mahasiswa Indonesia di Timur Tengah.
Alasannya sederhana tapi masuk akal. Mahasiswa-mahasiswa ini punya keunggulan komplet: bahasa Arab lancar, paham tata cara haji, mengerti budaya lokal. Belum lagi fisik mereka yang masih prima, yang tentu sangat dibutuhkan untuk memberikan layanan optimal kepada jemaah yang rata-rata sudah sepuh.
“Saya minta Menteri Haji mempertimbangkan serius aspirasi ini,” tegas Hidayat.
“Rekrut lebih banyak mahasiswa Indonesia di Timur Tengah sebagai tenaga musim. Selain profesionalitas mereka, pelibatan ini juga sangat bermanfaat untuk mendukung keberlangsungan pendidikan mereka sebagai kader ulama penerus bangsa.”
Artikel Terkait
Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka dengan Syarat Khusus
Politisi DPR Kecam Serangan Air Keras ke Aktivis HAM Andrie Yunus
Polisi Megamendung Amankan 30 Botol Miras dalam Patroli Ramadan
Amri/Nita Akui Masalah Konsistensi Usai Gagal ke Final Swiss Open