Operasi itu berjalan cepat dan sunyi. Di Sihanoukville, Kamboja, seorang perempuan bernama Dewi Astutik akhirnya berhasil diamankan. Ia bukan tersangka sembarangan, melainkan aktor intelektual di balik penyelundupan sabu seberat dua ton, dengan nilai fantastis mencapai Rp 5 triliun.
Penangkapan ini adalah hasil kolaborasi yang cukup rumit. BNN tak bekerja sendirian. Mereka dibantu oleh kepolisian Kamboja, jajaran KBRI di Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, hingga BAIS TNI dan Bea Cukai. Semua bergerak dalam satu tim gabungan.
Menurut sejumlah saksi, Dewi ditangkap tepat saat hendak memasuki lobi sebuah hotel. Operasinya presisi, tanpa keributan. Bersamanya, turut diamankan seorang pria berkewarganegaraan Pakistan berinisial AH, yang diduga merupakan pasangannya.
Roy Hardi Siahaan, Direktur Penindakan BNN, memimpin langsung operasi senyap ini. Perintahnya datang dari atas, dari Kepala BNN Suyudi Ario Seto, yang sebulan sebelumnya sudah meminta dibentuknya tim khusus untuk pengejaran internasional. Targetnya jelas: menuntaskan kasus ini.
Setelah diamankan di Sihanoukville, Dewi kemudian dibawa ke Phnom Penh. Di sana, proses verifikasi identitas dan serah-terima resmi antar otoritas berlangsung. Ternyata, perempuan ini juga jadi buronan pemerintah Korea Selatan.
Artikel Terkait
Pemilik Dua Perusahaan Dituntut atas Dugaan Korupsi Rp 1,8 Triliun di LPEI
Dude Herlino Bisa Dipanggil Penyidik Terkait Dugaan Penipuan DSI
Kerangka Hangus di Lombok Barat: Botol Bahan Bakar dan Tali Nilon Jadi Kunci Misteri
Wali Kota Serang Laporkan Media, Dewan Pers Jadi Bahan Perdebatan