Jaring Sabut Kelapa Karya Warga Binaan Cirebon Tembus Pasar Korea

- Jumat, 05 Desember 2025 | 00:45 WIB
Jaring Sabut Kelapa Karya Warga Binaan Cirebon Tembus Pasar Korea

Lapas Kelas I Cirebon baru saja mencatatkan pencapaian penting. Untuk pertama dan kedua kalinya, mereka berhasil mengekspor produk bernama coir net, atau jaring sabut kelapa, yang dibuat langsung oleh tangan-tangan narapidana di sana.

Menurut sejumlah saksi, barang-barang itu telah dikirim ke Korea Selatan. Ekspor pertama sebanyak 5.400 unit, disusul kemudian dengan 2.000 unit lagi. Bahan bakunya ya sabut kelapa itu sendiri.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis lalu (4/12/2025), pihak lapas menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya mendukung program hilirisasi kelapa yang digaungkan Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan (Imipas).

“Ini adalah hasil kolaborasi kami dengan PT Coir,” begitu bunyi pernyataan tersebut.

Proses produksinya sendiri melibatkan sekitar 40 warga binaan. Mereka bukan asal kerja. Sebelumnya, sejak Agustus 2025, para narapidana ini sudah dibekali pelatihan keterampilan khusus agar bisa menghasilkan produk yang layak jual.

Dan soal kualitas, setiap helai jaring harus melalui pemeriksaan ketat dari PT Coir dulu sebelum dikemas untuk ekspor. Tampaknya, standarnya berhasil dipenuhi.

Keberhasilan ini bukan sekadar urusan angka. Ia membuktikan satu hal: bahwa pembinaan kemandirian di balik tembok lapas ternyata bisa menyentuh rantai pasok global. Ada kebanggaan tersendiri di sana.

Di sisi lain, peran Lapas Cirebon dalam peta besar hilirisasi kelapa di Jawa Barat memang sudah ditetapkan. Mereka ditunjuk sebagai pusat finishing dan produksi barang jadi siap ekspor. Posisi ini melengkapi jejaring industri yang lebih luas, yang mencakup sentra bahan baku di selatan Jawa Barat hingga pabrik pengolahan setengah jadi di unit pelaksana teknis lainnya.

Kerja sama ini jelas membawa dampak ganda. Selain menggenjot kapasitas industri sabut kelapa, ia juga memberdayakan warga binaan, memberi mereka keterampilan dan harapan. Lapas Cirebon sendiri berencana memperluas kolaborasi semacam ini ke depannya. Targetnya, variasi produk ekspor bisa bertambah dan lebih banyak lagi narapidana yang terlibat serta mendapat manfaat.

Dengan dua kali ekspor ini, citra Lapas Cirebon kian kuat. Mereka bukan lagi sekadar tempat pembinaan, tapi telah bertransformasi menjadi ujung tombak ekspor produk turunan kelapa. Sebuah contoh nyata bahwa pembinaan bisa berjalan beriringan dengan daya saing industri di kancah global.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar