Pendataan korban banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera masih terus dilakukan. Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengaku belum punya angka pasti, tapi situasinya cukup parah. Bahkan, ada laporan bahwa beberapa desa hilang begitu saja disapu arus.
Menteri Yandri Susanto mengungkapkan hal itu di kantornya, Kamis lalu. Menurutnya, timnya masih bekerja keras memvalidasi data dari daerah-daerah yang terdampak, terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Kita sampai hari ini terus memantau. Validasi data untuk daerah yang kena bencana masih berjalan. Sebagian besar lokasi terdampak itu kan wilayah desa,” ujar Yandri.
Yang mengerikan, beberapa permukiman disebut lenyap. Penyebabnya, lokasi desa-desa itu ternyata berubah menjadi aliran sungai utama setelah bencana menerjang.
“Bahkan ada beberapa desa yang hilang. Yang awalnya desa, sekarang jadi arus sungai. Kami akan koordinasi dengan kementerian lain dan pemda, baik gubernur maupun bupati, untuk merumuskan pemulihan. Baik untuk desa yang hilang maupun yang rusak berat,” jelasnya.
Soal jumlah pastinya? Itu masih jadi tanda tanya. Yandri mengakui kendala komunikasi dan jaringan yang terputus membuat pendataan tak mudah. Meski begitu, dia memperkirakan ratusan desa terdampak.
“Pastinya belum. Jaringan masih banyak terputus, komunikasi terhambat. Tapi jumlahnya memang ratusan. Tinggal pengelompokannya saja: berapa yang hilang, rusak berat, sedang, atau ringan. Itu yang kami validasi terus.”
Di sisi lain, Kemendes PDT berjanji akan mengerahkan semua sumber daya. Bantuan donasi juga akan disalurkan langsung ke korban. Namun, untuk rehabilitasi fisik seperti rumah dan fasilitas umum Yandri menegaskan itu butuh kerja sama lebih luas.
“Membangun rumah atau fasilitas desa seperti kantor dan sekolah, itu perlu melibatkan semua pihak. Sesuai arahan Presiden, semua kementerian dan lembaga akan turun. Kerja sama dengan pemerintah provinsi dan daerah mutlak diperlukan,” pungkasnya.
Harapannya, desa-desa yang porak-poranda itu bisa segera pulih. Tapi jalan masih panjang. Koordinasi antarlembaga menjadi kunci berikutnya setelah fase tanggap darurat ini berakhir.
Artikel Terkait
Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Anggota DPR: Jangan Cepat Puas Diri
Dokter di NTT Ditemukan Tewas Gantung Diri, Keluarga Duga Depresi Akibat Intimidasi Anggota DPRD
Kepuasan Peserta TASPEN Capai Skor Tertinggi 98,7 pada 2025
BMKG: Puncak Musim Kemarau Juli 2026 Mulai Terjadi di 83 Zona Musim