Penyegelan bukan satu-satunya tindakan. Beberapa orang yang diduga terlibat sudah diperiksa. Namun, target utama justru ada di belakang layar: para pemodal. Pihak berwenang masih memburu aktor intelektual yang mendanai operasi ilegal ini.
“Pemeriksaan tersebut untuk menemukan pelaku aktor-aktor sebagai pemodalnya,” tegasnya.
Dwi Januanto Nugroho, Dirjen Penegakan Hukum Kehutanan, menyoroti skala kerusakan. Aktivitas tambang liar ini terjadi secara massif dan, tentu saja, mengancam nyawa ekosistem TNGHS. Kawasan yang seharusnya jadi benteng terakhir keanekaragaman hayati, justru dikeruk untuk segelintir orang.
“Peti di kawasan konservasi TNGHS telah terjadi secara massif dan mengancam terhadap kelestarian kawasan konservasi,” katanya.
Operasi ini juga punya dimensi lain: mitigasi bencana. Menurut Januanto, kerusakan akibat penambangan liar bisa memicu longsor dan banjir, terutama saat musim hujan tiba. Tindakan tegas sekarang bukan cuma soal hukum, tapi juga upaya menyelamatkan nyawa dan lingkungan di sekitarnya.
“Operasi ini juga rangkaian kesiapsiagaan kita menghadapi musim penghujan yang dapat mengakibatkan longsor dan banjir,” pungkas Januanto.
Lanskap TNGHS memang sedang terluka. Segel-segel itu mungkin bisa menghentikan sementara aktivitas liar, tapi pemulihan ekosistem yang rusak membutuhkan waktu jauh lebih lama. Dan perburuan para pemodal besar? Itu cerita yang masih harus ditunggu kelanjutannya.
Artikel Terkait
Jemaah Iran Menghilang di Tanah Suci, Diduga Terkait Ketegangan Geopolitik
Bayi Dua Hari Ditemukan di Gerobak Nasi Uduk, Disertai Surat Pilu dari Kakak 12 Tahun
Pemerintah dan Tokoh Bali Sepakati Takbiran 2026 Tanpa Pengeras Suara Saat Nyepi
AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Lepas Pantai Sri Lanka, 87 Pelaut Tewas