Kemenkes Banjiri Pengungsian Aceh dengan Logistik Medis dan Tenaga Kesehatan

- Rabu, 03 Desember 2025 | 09:10 WIB
Kemenkes Banjiri Pengungsian Aceh dengan Logistik Medis dan Tenaga Kesehatan

Kondisi di pengungsian Masjid Jamik Al Istiqamah di Ulee Tutue, Bireuen, Aceh, mulai mengkhawatirkan. Banyak pengungsi, terutama anak-anak dan orang tua, dilaporkan mulai jatuh sakit. Kabar ini datang seiring dengan meningkatnya tekanan akibat banjir yang melanda wilayah Sumatera.

Menanggapi situasi ini, Kementerian Kesehatan bergerak cepat. Mereka tak hanya menambah tim medis di lapangan, tapi juga membanjiri lokasi bencana dengan logistik kesehatan yang sangat dibutuhkan.

Agus Jamaludin, sang Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, menjelaskan langkah-langkah yang diambil. Fokus utamanya adalah layanan dasar dan penanganan penyakit infeksi.

"Kami memperkuat layanan dasar, skrining, penanganan penyakit infeksi, dan pemantauan kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia," ujar Agus, Rabu (3/12/2025).

Koordinasi dengan dinas kesehatan daerah pun terus digenjot. Tujuannya jelas: memastikan semua kebutuhan warga terpenuhi. Seluruh puskesmas dan rumah sakit disiagakan penuh. Layanan mobile dan pos kesehatan di tenda-tenda pengungsian juga diperkuat.

Lalu, bantuan apa saja yang sudah dikirim? Rinciannya cukup banyak. Per 1 Desember, Kemenkes mendistribusikan 103 unit oxygen concentrator, ribuan dus makanan tambahan untuk balita dan ibu hamil, serta beragam obat-obatan dan bahan medis.

Tak cuma itu. Logistik pendukung seperti masker bedah, sarung tangan, APD, hingga alat uji kualitas air juga disiapkan. Bahkan, hal-hal yang kerap terlupakan seperti kantong jenazah dan sampah medis turut diperhitungkan.

"Obat-obatan, BMHP, 2.000 masker bedah, 500 sarung tangan medis, 10 set APD petugas... itu sebagian yang kami kirim," tambah Agus merinci.

Di sisi lain, upaya pendampingan juga tak kalah penting. Tiga tim khusus dikerahkan ke tiga provinsi terdampak. Yang menarik, Kemenkes juga memasang akses internet Starlink. Langkah ini untuk menjaga komunikasi di daerah yang infrastrukturnya lumpuh total.

Layanan kesehatan yang disiapkan pun cukup komprehensif, mulai dari umum hingga dukungan psikologis. Beberapa rumah sakit besar, seperti RSUD Adam Malik dan RSCM, sudah ditetapkan sebagai rujukan. Tenaga medis spesialis dari emergensi hingga orthopedi juga telah diterjunkan untuk memastikan layanan tetap optimal.

Sebelumnya, kondisi di lokasi memang memprihatinkan. Saiful Amri, Keuchik Lhok Nga di Bireuen, sudah mengangkat suara.

"Pengungsi di masjid ini membutuhkan layanan kesehatan. Sejumlah pengungsi, terutama lanjut usia dan balita, mulai sakit," katanya, Selasa (2/12).

Pengungsi yang berasal dari beberapa desa seperti Lhoknga dan Blang Panjoe itu harus tinggal di dalam masjid yang terbuka. Dapur umum ada di belakang, namun listrik padam membuat pasokan air bersih terhambat. Kebutuhan spesifik seperti susu untuk balita pun disebut masih sangat minim.

Jelas, tantangan di lapangan masih besar. Namun dengan tambahan bantuan dan personel ini, diharapkan beban para pengungsi bisa sedikit terangkat.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar