Pilihannya sangat terbatas. Yang mereka temukan hanyalah nangka muda, itupun ukurannya kecil-kecil. Sebutir kelereng, begitu kira-kira gambarnya. Itulah yang kemudian dipanggang dan dijadikan santapan untuk mengganjal perut yang keroncongan. Untuk minum, mereka mengandalkan air hujan yang turun di lokasi. Tak ada pilihan lain.
Rosmawati mengutip penuturan adiknya dengan nada haru.
"Kata adik saya, mereka makan nangka muda yang besarnya sebiji kelereng, dipanggang, itulah mereka makan. Hanya itu yang ada di hutan itu. Minumnya nggak tahu lagi, mungkin air hujan itu, nggak ada di situ minum," jelasnya.
Meski berhasil mengevakuasi diri pada Kamis, kabar bahwa mereka semua selamat baru sampai ke keluarga seperti Rosmawati tiga hari kemudian, pada Minggu (30/11). Tiga hari penuh kecemasan menunggu kepastian nasib orang-orang tercinta.
Cerita ini bukan sekadar laporan bencana. Ini adalah potret nyata tentang ketangguhan manusia ketika dihadapkan pada situasi paling sulit. Bertahan dengan apa yang ada, seadanya, demi menyambung nyawa.
Artikel Terkait
Pak Ferry, Tetangga yang Baik Hati Itu, Jadi Korban Pesawat Jatuh di Pangkep
Genangan 50 Cm Masih Menghantui Sejumlah Jalan di Jakarta Utara
Hujan Semalam, 48 RT di Jakarta Terendam Banjir
Kapolsek Turun Langsung Bagikan Sembako ke Warga Terendam di Kelapa Gading