Inklusi Disabilitas Jadi Fokus Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025

- Rabu, 03 Desember 2025 | 06:30 WIB
Inklusi Disabilitas Jadi Fokus Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025

Tanggal 3 Desember nanti, dunia akan kembali memperingati Hari Disabilitas Internasional. Atau, kalau mau pakai istilah resminya, International Day of Persons with Disabilities (IDPD). Ini adalah momen tahunan PBB yang sudah berjalan cukup lama.

Nah, untuk tahun 2025 ini, tema yang diusung sudah diumumkan oleh Departemen Ekonomi dan Sosial PBB. Tema ini nggak muncul begitu saja, lho. Ia punya kaitan erat dengan pertemuan tingkat tinggi dunia yang baru saja digelar.

Lebih Dari Sekadar Peringatan

Sebenarnya, apa sih tujuan hari ini? Intinya, ini adalah upaya global untuk mendorong hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas di mana pun. WHO dan PBB secara konsisten menekankan, partisipasi penuh dan setara dalam masyarakat adalah hak dasar. Mereka harus bisa hidup tanpa hambatan, baik di ranah politik, ekonomi, maupun sosial-budaya.

Singkatnya, ini soal membangun kesadaran bahwa inklusi itu bukan pilihan, melainkan keharusan.

Tema 2025: Inklusi sebagai Kunci Kemajuan

Jadi, tema tahun ini adalah "Fostering disability-inclusive societies for advancing social progress". Kalau diterjemahkan bebas, kira-kira artinya mendorong masyarakat yang inklusif disabilitas untuk memajukan kemajuan sosial.

Menurut sejumlah pihak di PBB, pemilihan tema ini langsung menyambut hasil KTT Dunia Kedua untuk Pembangunan Sosial di Doha, awal November 2025 lalu. Dalam pertemuan puncak itu, para pemimpin dunia kembali berkomitmen menciptakan dunia yang lebih adil dan setara.

Seruan untuk Menempatkan Inklusi Disabilitas di Pusat Kemajuan Sosial

Deklarasi Politik dari Doha menyiratkan pesan yang jelas: mustahil membangun kemajuan sosial tanpa melibatkan penyandang disabilitas secara penuh. Namun begitu, realita di lapangan masih jauh dari ideal.

Di berbagai belahan dunia, tantangan yang dihadapi masih serupa dan terus berulang. Misalnya, kerentanan terhadap kemiskinan yang lebih tinggi, akses terhadap pekerjaan layak yang terbatas, dan kesenjangan perlindungan sosial terutama bagi pekerja sektor informal.

Belum lagi soal hambatan terhadap otonomi diri dalam sistem perawatan, serta ketimpangan akses terhadap teknologi bantu dan lingkungan yang ramah.

Acara peringatan utama rencananya akan digelar virtual, pada 3 Desember pukul 10.00-11.30 waktu New York (EST). Pertemuan yang berbasis di Markas Besar PBB ini akan dihadiri oleh perwakilan negara, petinggi PBB, para advokat, dan tentu saja, anak muda.

Semua agenda ini di koordinir oleh Program PBB tentang Disabilitas, yang berada di bawah naungan Divisi Pembangunan Sosial Inklusif. Misi mereka jelas: mendorong pemenuhan hak dan kemajuan para penyandang disabilitas di segala bidang.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar