Lewotobi Laki-laki Masih Siaga, Gempa dan Asap Tebal Tanda Magma Bergerak

- Selasa, 02 Desember 2025 | 02:20 WIB
Lewotobi Laki-laki Masih Siaga, Gempa dan Asap Tebal Tanda Magma Bergerak

Status Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur masih siaga satu. Levelnya tetap di Level IV atau AWAS, begitu pernyataan resmi dari Badan Geologi Kementerian ESDM. Intinya, warga diimbau untuk tidak lengah dan terus waspada.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan hal itu dalam laporannya yang dirilis Selasa lalu.

“Berdasarkan analisis visual dan instrumental tersebut, tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki masih ditetapkan pada Level IV (AWAS),” katanya.

Kalau dilihat dari kejauhan, gunung itu kadang terlihat jelas, kadang juga diselimuti kabut. Asap putih terus mengepul dari kawah utamanya, dengan ketinggian yang bervariasi antara 50 sampai 200 meter. Cuaca di sana memang tak menentu, cerah bisa berubah jadi hujan. Anginnya lemah, berembus ke berbagai arah, sementara suhu udaranya berkisar antara 21 hingga 33 derajat Celcius.

Di balik pemandangan itu, gemuruh dari dalam bumi tak kalah sibuk. Dalam rentang waktu 30 November hingga 1 Desember sampai siang hari, tercatat puluhan kali gempa. Ada tremor non-harmonik, gempa low frequency, juga gempa vulkanik dalam. Meski begitu, erupsi besar belum terjadi. Letusan terakhir masih tercatat pada pertengahan Oktober lalu.

“Meskipun visual ke arah gunung sering tertutup kabut,” ujar Saria, “namun saat jelas hembusan asap tebal masih teramati berasal dari kawah dan rekahan arah barat laut.”

Nah, ini yang perlu dicermati. Pola kegempaan yang masih tinggi itu, terutama gempa low frequency, menjadi tanda bahwa pergerakan magma ke permukaan masih aktif berlangsung. Suplainya terus terjadi. Alat deformasi tiltmeter juga menangkap adanya akumulasi tekanan. Data satelit GNSS pun menunjukkan fluktuasi. Semua parameter ini mengisyaratkan satu hal: potensi erupsi masih sangat nyata.

Karena itu, imbauan keras pun disampaikan. Masyarakat dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 6 kilometer dari pusat erupsi. Zona perluasan hingga 7 kilometer ke arah barat laut-timur laut juga harus dikosongkan. Pemerintah meminta semua pihak tetap tenang dan hanya mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah.

“Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya,” tegas Saria.

Ancaman lain yang mengintai adalah banjir lahar, terutama jika hujan lebat mengguyur kawasan itu. Daerah aliran sungai yang berhulu di puncak gunung, seperti Nawakote, Dulipali, Nobo, dan sekitarnya, harus diwaspadai. Bagi yang terdampak hujan abu, penggunaan masker jadi keharusan untuk melindungi pernapasan.

Tak hanya itu, abu vulkaniknya juga berpotensi mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan di sekitarnya, jika arah sebarannya mengarah ke sana.

Jadi, situasinya masih kritis. Kewaspadaan adalah kunci.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar