Nah, ini yang perlu dicermati. Pola kegempaan yang masih tinggi itu, terutama gempa low frequency, menjadi tanda bahwa pergerakan magma ke permukaan masih aktif berlangsung. Suplainya terus terjadi. Alat deformasi tiltmeter juga menangkap adanya akumulasi tekanan. Data satelit GNSS pun menunjukkan fluktuasi. Semua parameter ini mengisyaratkan satu hal: potensi erupsi masih sangat nyata.
Karena itu, imbauan keras pun disampaikan. Masyarakat dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 6 kilometer dari pusat erupsi. Zona perluasan hingga 7 kilometer ke arah barat laut-timur laut juga harus dikosongkan. Pemerintah meminta semua pihak tetap tenang dan hanya mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah.
“Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya,” tegas Saria.
Ancaman lain yang mengintai adalah banjir lahar, terutama jika hujan lebat mengguyur kawasan itu. Daerah aliran sungai yang berhulu di puncak gunung, seperti Nawakote, Dulipali, Nobo, dan sekitarnya, harus diwaspadai. Bagi yang terdampak hujan abu, penggunaan masker jadi keharusan untuk melindungi pernapasan.
Tak hanya itu, abu vulkaniknya juga berpotensi mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan di sekitarnya, jika arah sebarannya mengarah ke sana.
Jadi, situasinya masih kritis. Kewaspadaan adalah kunci.
Artikel Terkait
KPK Ungkap Aliran Uang Haram Rp 53 Miliar ke Mantan Pejabat Pensiunan Kemnaker
Subsidi Upah Rp 200 Ribu untuk Buruh Jakarta Dapat Sinyal Hijau dari DPRD
AS Bekukan Visa Imigran dari 75 Negara, Thailand dan Kawasan Asia Tenggara Terimbas
16 Januari 2026: Dari Isra Mikraj hingga Dunia Buku, Satu Tanggal dengan Tiga Warna Berbeda