Menteri Koperati Soroti Peran Gen-Z Dongkrak Ekonomi Desa

- Senin, 24 November 2025 | 16:35 WIB
Menteri Koperati Soroti Peran Gen-Z Dongkrak Ekonomi Desa
Peran Gen-Z untuk Koperasi

Di hadapan ratusan mahasiswa UNAIR, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan sebuah keyakinan. Menurutnya, masa depan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih justru ada di tangan Gen-Z. Energi kreatif dan keberanian mereka dinilai bisa membawa angin segar.

Acara 'Indonesia Punya Kamu' di Airlangga Convention Center, Surabaya, Senin (24/11/2025) itu memang menghadirkan banyak pembicara. Turut hadir Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, dan Walikota Surabaya Eri Cahyadi. Suasana pun terasa hidup dengan kehadiran para mahasiswa.

Ferry punya alasan kuat. Kemampuan digital yang melekat pada anak-anak muda ini, katanya, adalah kunci percepatan. Mereka bisa membawa koperasi ini melompat lebih cepat dan modern.

"Melalui kemampuan digital marketing, koneksi bisnis online sampai inovasi produk dan layanan, Gen Z dapat membawa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih melompat lebih cepat dan modern,"

Sebelumnya, Ferry sudah sering menekankan soal kolaborasi. Sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi, dalam pandangannya, adalah jalan tercepat untuk memodernisasi koperasi desa, terutama Kopdes Merah Putih.

Logikanya sederhana. Dengan Kopdes yang kuat, perputaran uang di desa akan lebih besar. Transaksi antar warga pun bisa ditingkatkan lewat teknologi. Dan ketika ekonomi desa bergerak kencang, dampaknya akan terasa hingga tingkat nasional.

"Mudah-mudahan dengan pertumbuhan ekonomi yang ada di desa-desa secara agregat akan bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi secara nasional, seperti yang Presiden ini kan bisa mencapai angka 8 persen,"

Ia lalu menggambarkan problem nyata di lapangan. Ambil contoh saat musim panen padi. Petani masih mengandalkan matahari, menjemur gabah di pinggir jalan. Cara tradisional ini sering berujung pada kualitas padi yang kurang bagus dan harga jual yang anjlok.

Belum lagi soal penyimpanan. Minimnya fasilitas cold storage untuk buah, sayur, dan hasil tangkapan nelayan membuat kualitas produk cepat turun sebelum sampai ke pasar. Ini jelas merugikan.

Namun begitu, Ferry tetap optimis. Dengan kerjasama yang solid, ia yakin masalah-masalah seperti ini bisa diatasi dalam satu atau dua tahun ke depan. Pengembangan teknologi menjadi harapan untuk menjaga kualitas hasil bumi masyarakat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar