Di tengah cuaca yang semakin tak menentu dan berbagai persoalan di lapangan, sektor pertanian Indonesia ternyata masih mampu menunjukkan taringnya. Hal ini diakui langsung oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau yang lebih dikenal sebagai Titiek Soeharto. Dalam sebuah rapat kerja dengan Kementerian Pertanian, Senin (24/11), ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas capaian yang telah diraih.
"Kami atas nama Komisi IV sampaikan penghargaan atas Kementan yang sudah mencapai indikator penilaian, membaik, bahkan dapat penghargaan dari FAO," kata Titiek.
Penghargaan dari organisasi pangan dunia PBB, FAO, itu dinilai sebagai sebuah pencapaian yang membanggakan di bawah komando Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Namun begitu, pujian ini tidak lantas membuatnya menutup mata.
Menurut Titiek, jalan yang harus ditempuh masih panjang. Tantangannya serius banget. Mulai dari perubahan iklim yang bikin pusing, kekeringan di mana-mana, serangan hama, sampai pola tanam yang berpengaruh langsung pada hasil panen. Semua ini jadi pekerjaan rumah yang besar.
Ia pun menekankan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat swasembada. Percepatan ini, ujarnya, harus benar-benar terwujud dalam program strategis di lapangan. Mulai dari mengoptimalkan lahan, menyediakan irigasi yang memadai, benih unggul, pupuk bersubsidi, hingga modernisasi alat dan mesin pertanian.
"Upaya swasembada tidak boleh terhambat satu pihak. Ini menuntut kerja bersama pemerintah pusat, daerah, lembaga teknis, BUMN, pelaku usaha hingga petani," tegasnya.
Di sisi lain, Menteri Pertanian Amran Sulaiman tampak optimis menanggapi hal ini. Ia menyatakan bahwa Kementannya telah bergerak cepat untuk memastikan ketersediaan pangan berkelanjutan di tengah segala tantangan.
Fokusnya di tahun 2025 cukup jelas. "Pada tahun 2025 Kementan fokus pada cetak sawah, oplah, pompanisasi, pengembangan padi gogo, dan irigasi bersama PU," jelas Amran.
Semua program itu tentu butuh dana yang nggak sedikit. Pagu alokasi anggaran tahun 2025 sebesar Rp 31,91 triliun, dengan pagu efektif Rp 31,12 triliun, diklaim telah dioptimalkan untuk menjalankan program-program strategis. Bahkan ada tambahan anggaran khusus untuk mengikuti arahan presiden dalam meningkatkan komoditas perkebunan strategis seperti tebu, kelapa, kakao, mete, lada, dan pala.
Bagaimana dengan penyerapannya? Hingga 20 November 2025, realisasi anggaran telah mencapai 72,29 persen. Amran memproyeksikan angka ini akan melesat minimal ke 93 persen di akhir tahun.
"Kami terus berupaya untuk meningkatkan serapan anggaran dan diproyeksikan realisasi penyerapan sampai dengan 31 Desember 2025 mencapai minimal 93 persen melalui optimalisasi pelaksanaan program dan kegiatan di lapangan dengan tetap menjaga pelaksanaan kegiatan dan pertanggungjawaban keuangan secara akuntabel," paparnya lebih detail.
Melihat ke depan, rencana kerja tahun 2026 sudah disiapkan dengan pagu anggaran yang lebih besar lagi, yakni Rp 40,145 triliun. Angka ini sejalan dengan tema kerja pemerintah yang mengedepankan kedaulatan pangan dan energi, serta membangun ekonomi yang produktif dan inklusif.
Intinya, komitmen Kementan ditegaskan kembali: menjaga percepatan produksi, meningkatkan kesejahteraan para petani, dan yang paling penting, memastikan swasembada pangan bukan sekadar wacana, tapi kenyataan yang berkelanjutan.
Artikel Terkait
Kapolri Imbau Orang Tua Awasi Anak Muda untuk Cegah Tawuran Saat Ramadan
Hodak Jelaskan Alasan Debut Singkat Dion Markx di Kemenangan Persib
Laporan Wardatina Mawa Naik ke Penyidikan, Kuasa Hukum Insanul Fahmi Ancam Minta Perlindungan ke Presiden
Korlantas Tinjau Kesiapan Tol Trans Sumatera Jelang Mudik, Larang Kendaraan Over Dimensi