Trump Beri Tenggat, Ukraina Didesak Serahkan Wilayah Timur ke Rusia

- Sabtu, 22 November 2025 | 04:25 WIB
Trump Beri Tenggat, Ukraina Didesak Serahkan Wilayah Timur ke Rusia
Rencana Damai AS untuk Ukraina-Rusia

Rencana Damai AS untuk Ukraina-Rusia

Pemerintah Amerika Serikat akhirnya mengeluarkan proposal perdamaian untuk mengakhiri konflik antara Ukraina dan Rusia. Menariknya, Presiden AS Donald Trump memberi waktu bagi Ukraina hingga 27 November nanti untuk memberikan jawaban resmi mereka.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Fox Radio pada Jumat (21/11), Trump mengungkapkan detail tenggat waktu tersebut. "Saya sudah punya banyak tenggat waktu, tetapi jika semuanya berjalan lancar, kita cenderung memperpanjang tenggat waktu. Namun, Kamis, menurut kami, adalah waktu yang tepat," ujarnya seperti dilaporkan AFP, Sabtu (22/11/2025).

Rencana perdamaian yang diajukan AS ini ternyata cukup kontroversial. Intinya, Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayah di timur kepada Rusia. Tak hanya itu, mereka juga harus setuju untuk mengurangi jumlah tentara mereka secara signifikan.

Di sisi lain, Kyiv juga diharuskan berkomitmen untuk tidak akan pernah bergabung dengan aliansi NATO. Meski pesawat tempur Eropa akan ditempatkan di Polandia sebagai bentuk perlindungan, Ukraina tidak akan mendapatkan pasukan penjaga perdamaian dari Barat yang selama ini mereka perjuangkan.

Trump tampaknya cukup yakin dengan proposal ini. Dia bahkan menyatakan bahwa jika pertempuran terus berlanjut, Ukraina pada akhirnya akan tetap kehilangan wilayah-wilayah yang sekarang diminta untuk diserahkan kepada Rusia.

"Katakan apa yang Anda inginkan, mereka sangat berani," pujinya tentang pasukan Ukraina yang terus bertahan melawan Rusia.

Ketika ditanya tentang kemungkinan Putin memerintahkan serangan lebih lanjut ke Ukraina, Trump punya pandangan berbeda. Menurut calon presiden dari Partai Republik ini, pemimpin Rusia Vladimir Putin sebenarnya "tidak menginginkan perang lagi."

Trump juga berpendapat bahwa Putin sebenarnya sudah "menerima hukuman" atas konflik yang sudah berlarut-larut ini. Padahal, tambahnya, perang yang dimulai sejak invasi Februari 2022 lalu itu "seharusnya hanya perang satu hari."

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar