Analisis Strategi Politik: Projo dan Budi Arie Masuk Gerindra - Apa Motif di Baliknya?
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, memberikan analisis tajam mengenai perpindahan relawan Projo dan Budi Arie ke Partai Gerindra. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar perpindahan biasa melainkan strategi penyusupan politik untuk memperkuat posisi Jokowi dan memproyeksikan Gibran Rakabuming Raka sebagai suksesor Prabowo Subianto.
Tiga Motif Utama Bergabungnya Projo ke Gerindra
Analisis politik ini mengungkap tiga alasan mendasar di balik keputusan strategis tersebut:
Pragmatisme Kekuasaan
Sejak Jokowi tidak lagi menjabat presiden pada 2024, Projo dinilai kehilangan sumber daya dan relevansi kekuasaan. Bergabung dengan Gerindra sebagai partai pemenang pemilu menjadi strategi bertahan hidup untuk tetap memiliki akses ke struktur kekuasaan.
Perlindungan Hukum
Budi Arie yang pernah tersandung kasus judi online saat memimpin Kementerian Kominfo diyakini membutuhkan impunitas politik. Gerindra sebagai partai penguasa dianggap mampu memberikan payung hukum yang lebih kuat dibanding partai lainnya.
Perubahan Peta Politik
Jokowi dinilai tidak lagi menjadi magnet politik sentris yang bisa melindungi Budi Arie atau membuka akses kekuasaan seperti saat masih menjabat presiden.
Ancaman Penyusupan bagi Gerindra
Ginting memperingatkan bahwa masuknya Projo bisa menjadi ancaman serius bagi Gerindra. Dalam jangka menengah, Budi Arie diduga disusupkan untuk memproyeksikan Gibran sebagai calon presiden 2029 atau bahkan lebih cepat jika terjadi perubahan kondisi politik.
Projo berperan sebagai sayap loyalis Jokowi-Gibran yang menyiapkan transisi kekuasaan di Gerindra, sekaligus memperkuat posisi Jokowi sebagai king maker informal. Beberapa pengurus Gerindra bahkan sudah menyatakan penolakan terhadap kehadiran Projo karena dianggap sebagai penumpang gelap politik.
Fenomena Relawan dan Dampaknya bagi Demokrasi
Analisis ini juga mengkritisi fenomena relawan yang menjadi kekuatan politik signifikan sejak 2014. Keberadaan relawan dinilai menjadi salah satu faktor yang menurunkan indeks demokrasi Indonesia.
Berbeda dengan partai politik yang memiliki struktur akuntabilitas publik, relawan beroperasi tanpa akuntabilitas finansial dan politik yang jelas. Mereka bebas berpindah loyalitas tanpa konsekuensi karena orientasinya lebih pada kekuasaan dan pragmatisme daripada ideologi.
Pertarungan Master Politik Jawa
Meski demikian, Prabowo dinilai tidak sembarangan menerima Projo. Ada strategi politik canggih di balik keputusan ini. Yang terjadi adalah pertarungan dua master politik Jawa yang bermain dengan cara halus penuh simbol, bukan konfrontasi langsung.
Jokowi melakukan infiltrasi hingga ke jantung kekuasaan, sementara Prabowo mencoba mengendalikan infiltrasi tersebut dengan menarik Projo ke dalam kendalinya. Elektabilitas Gerindra yang kini diprediksi melampaui 30 persen menjadi pertaruhan besar jika langkah ini gagal dikelola dengan baik.
Artikel Terkait
Pengamat Soroti Reformasi Kultural sebagai Inti Perubahan di Tubuh Polri
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid
Istri Tersangka Korupsi Bupati Bekasi Diperiksa KPK
Batalyon Arhanud 21 Pasgat Jadi Perisai Terakhir Objek Vital TNI AU