Serangan Udara Kolombia Gempur Markas Gerilyawan EMC di Amazon
Pasukan militer Kolombia melakukan operasi serangan udara besar-besaran di kawasan Hutan Amazon. Sasaran operasi ini adalah markas kelompok gerilya Central General Staff (EMC), yang merupakan pecahan dari organisasi FARC. Operasi militer ini terjadi pada hari Senin, tepatnya saat fajar menyingsing.
Menurut pernyataan resmi dari Laksamana Francisco Cubides, seorang perwira tinggi militer, serangan tersebut membuahkan hasil yang signifikan. "Dalam operasi ini, kami berhasil menewaskan 19 orang teroris, menangkap satu orang hidup-hidup, serta menyita sejumlah perlengkapan militer mereka," ujarnya pada hari Rabu. Operasi ini digelar untuk mengantisipasi rencana serangan EMC terhadap instalasi militer Kolombia.
Serangan udara ini tidak lepas dari perintah langsung Presiden Kolombia, Gustavo Petro. Presiden Petro memberikan instruksi untuk membom dan membubarkan kelompok EMC. Keputusan ini diambil setelah upaya perundingan damai antara pemerintah dan pemimpin EMC, Ivan Mordisco, mengalami kebuntuan dan gagal mencapai kesepakatan.
Langkah Presiden Petro ini juga muncul di tengah tekanan politik yang ia hadapi. Pemerintahannya kerap dikritik, termasuk oleh Amerika Serikat, karena dianggap tidak serius dalam menangani kelompok gerilya dan perdagangan narkotika yang dilakukan oleh kelompok tersebut.
Latar Belakang Konflik: Pecahan FARC yang Menolak Damai
Kelompok EMC lahir dari penolakan terhadap Perjanjian Damai Havana tahun 2016. Perjanjian bersejarah antara pemerintah Kolombia dan FARC (Revolutionary Armed Forces of Colombia) tersebut bertujuan mengakhiri konflik bersenjata puluhan tahun. Namun, salah satu komandan FARC, Ivan Mordisco, beserta pengikutnya menolak untuk menandatangani perjanjian dan memilih memisahkan diri.
Mereka kemudian membentuk EMC dan terus melakukan perlawanan bersenjata. Sementara sebagian besar mantan anggota FARC lainnya memilih jalan damai dengan menyerahkan senjatanya. Sejak perpecahan itu, kekuatan EMC terus berkembang, menjadikan Ivan Mordisco sebagai salah satu target buruan paling utama di Kolombia.
Operasi militer terbaru ini menandai eskalasi konflik antara pemerintah Kolombia dan kelompok gerilya yang menolak berdamai, menyoroti kompleksitas perdamaian di negara tersebut.
Artikel Terkait
BI Terapkan Kuota Penukaran Uang Baru Jelang Lebaran 2026
Anggota DPR Desak Bentuk Tim Khusus Tangani Penonaktifan Massal Peserta BPJS PBI
Gibran Tegaskan Komitmen Pemerintah Perangi Korupsi dan Dorong RUU Perampasan Aset
Produksi Kakao Nasional Diproyeksi Naik Jadi 635 Ribu Ton pada 2026