Lapas Kelas II A Ambarawa membuktikan bahwa tempat pembinaan bisa menjadi pusat pelatihan kemandirian dan ketahanan pangan. Dengan menampung sekitar 550 warga binaan, lapas ini aktif menjalankan program keterampilan pertanian dan perikanan yang nyata.
Program pelatihan di Lapas Ambarawa dirancang sebagai bekal praktis untuk kehidupan warga binaan setelah bebas. Mereka diajari menanam sayuran seperti sawi, kangkung, dan terong, serta membudidayakan ikan lele. Semua proses dikerjakan langsung oleh warga binaan, mulai dari pengolahan tanah hingga panen.
Kepala Lapas Kelas II A Ambarawa, Subakdo Wulandoro, menekankan bahwa program ini berfokus pada latihan keterampilan dan kemandirian. Hasil panen tidak hanya untuk konsumsi internal, tetapi juga disalurkan ke masyarakat sekitar, memperkuat hubungan sosial dan ketahanan pangan lokal.
Kegiatan ini menggunakan prinsip ramah lingkungan, termasuk pupuk organik, serta memilih komoditas dengan masa tanam singkat dan nilai gizi tinggi. Selain mendapatkan keterampilan, warga binaan juga belajar disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab.
Menurut salah satu warga binaan, Supriyanto (45), program seperti ini sangat berarti sebagai bekal hidup setelah bebas. Program di Lapas Ambarawa menjadi bukti bahwa pembinaan melalui praktik nyata dapat membawa dampak positif bagi warga binaan dan masyarakat.
Dengan menanam, memelihara, dan berbagi, Lapas Kelas II A Ambarawa menciptakan ladang kemandirian yang penuh harapan, sekaligus mendukung reintegrasi warga binaan ke masyarakat.
Artikel Terkait
Bayern Muenchen Tahan Kejar Frankfurt untuk Raih Kemenangan 3-2
Pemprov Sulsel Gelar Ramadhan Leadership Camp untuk Bentuk Karakter ASN
Carrick Siap Pimpin Manchester United Secara Permanen
Kapolri Tekankan Sinergi Polri, Serikat Pekerja, dan Masyarakat Hadapi Dampak Global