Reformasi Polri Prabowo Dinilai Gagal Sentuh Akar Masalah, Ini Penjelasannya
Setelah setahun menjabat, kebijakan terbaru mengenai reformasi Polri semakin menguatkan analisis bahwa Prabowo dinilai bukan tipe pemimpin yang berpikir strategis dan konseptual. Banyak pengamat yang menyoroti bahwa hampir setiap langkah dan kebijakannya terkesan sebagai pencitraan, mirip dengan gaya kepemimpinan sebelumnya.
Makna Reformasi yang Sebenarnya
Secara level, reformasi berada satu tingkat di bawah revolusi. Esensinya adalah membongkar dan menata ulang sistem dengan cara yang agak radikal. Reformasi Polri yang sesungguhnya semestinya dimulai dari mengganti orang-orang yang berada di jajaran puncak struktur institusi. Hal ini mengingatkan pada pepatah klasik, "ikan membusuk dimulai dari kepala".
Masalah Fundamental dalam Komposisi Tim Reformasi
Melakukan reformasi Polri dengan tetap mempertahankan pucuk pimpinan dan jajaran petingginya dinilai sebagai sebuah kemustahilan. Logikanya sederhana: bagaimana mungkin mereka yang menjadi bagian dari masalah, disuruh untuk menyelesaikan masalah itu sendiri?
Kebijakan reformasi Polri yang tetap mempertahankan Kapolri Listyo Sigit dan justru memasukkannya ke dalam Komisi Reformasi disamakan dengan membersihkan lantai menggunakan sapu yang kotor. Hasil bersih yang diharapkan tentu sangat sulit untuk dicapai.
Komposisi Anggota Komisi yang Dipertanyakan
Dari komposisi 10 anggota komisi, beberapa di antaranya adalah: 3 mantan Kapolri, 1 mantan Wakapolri, dan 1 Kapolri aktif, yaitu Listyo Sigit. Fakta ini menunjukkan bahwa sekitar 50% anggota komisi berasal dari kalangan yang justru dianggap sebagai "bagian dari masalah". Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang kemandirian dan objektivitas proses reformasi itu sendiri.
Pertanyaan tentang Kapasitas Strategis Pemimpin
Prabowo sering disebut-sebut sebagai seorang yang gemar membaca buku. Ekspektasi publik pun tinggi, mengharapkan pemikiran yang lebih cerdas, filosofis, dan konseptual dalam menyusun strategi. Namun, realitas kebijakan yang diambil justru memunculkan kesan bahwa pemikirannya tumpul dan tidak menyentuh akar persoalan. Ini menjadi bahan pertanyaan besar bagi banyak kalangan.
Artikel Terkait
Gadis 6 Tahun WNI Tewas Tertabrak Mobil di Chinatown Singapura
PKL Makassar Cat Lapak Kuning, Pemkot Tegaskan Itu Tetap Pelanggaran
Megawati Terima Doktor Kehormatan di Arab Saudi, Tekankan Pemberdayaan Perempuan Kunci Kemajuan Negara
Megawati Raih Doktor Honoris Causa dari Universitas Perempuan Terbesar di Dunia