Reformasi Polri Prabowo Gagal? Ini 4 Masalah Mendasar yang Dipertanyakan Publik

- Sabtu, 08 November 2025 | 16:00 WIB
Reformasi Polri Prabowo Gagal? Ini 4 Masalah Mendasar yang Dipertanyakan Publik
Analisis Kebijakan Reformasi Polri Prabowo: Strategi atau Pencitraan?

Reformasi Polri Prabowo Dinilai Gagal Sentuh Akar Masalah, Ini Penjelasannya

Setelah setahun menjabat, kebijakan terbaru mengenai reformasi Polri semakin menguatkan analisis bahwa Prabowo dinilai bukan tipe pemimpin yang berpikir strategis dan konseptual. Banyak pengamat yang menyoroti bahwa hampir setiap langkah dan kebijakannya terkesan sebagai pencitraan, mirip dengan gaya kepemimpinan sebelumnya.

Makna Reformasi yang Sebenarnya

Secara level, reformasi berada satu tingkat di bawah revolusi. Esensinya adalah membongkar dan menata ulang sistem dengan cara yang agak radikal. Reformasi Polri yang sesungguhnya semestinya dimulai dari mengganti orang-orang yang berada di jajaran puncak struktur institusi. Hal ini mengingatkan pada pepatah klasik, "ikan membusuk dimulai dari kepala".

Masalah Fundamental dalam Komposisi Tim Reformasi

Melakukan reformasi Polri dengan tetap mempertahankan pucuk pimpinan dan jajaran petingginya dinilai sebagai sebuah kemustahilan. Logikanya sederhana: bagaimana mungkin mereka yang menjadi bagian dari masalah, disuruh untuk menyelesaikan masalah itu sendiri?

Kebijakan reformasi Polri yang tetap mempertahankan Kapolri Listyo Sigit dan justru memasukkannya ke dalam Komisi Reformasi disamakan dengan membersihkan lantai menggunakan sapu yang kotor. Hasil bersih yang diharapkan tentu sangat sulit untuk dicapai.

Komposisi Anggota Komisi yang Dipertanyakan

Dari komposisi 10 anggota komisi, beberapa di antaranya adalah: 3 mantan Kapolri, 1 mantan Wakapolri, dan 1 Kapolri aktif, yaitu Listyo Sigit. Fakta ini menunjukkan bahwa sekitar 50% anggota komisi berasal dari kalangan yang justru dianggap sebagai "bagian dari masalah". Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang kemandirian dan objektivitas proses reformasi itu sendiri.

Pertanyaan tentang Kapasitas Strategis Pemimpin

Prabowo sering disebut-sebut sebagai seorang yang gemar membaca buku. Ekspektasi publik pun tinggi, mengharapkan pemikiran yang lebih cerdas, filosofis, dan konseptual dalam menyusun strategi. Namun, realitas kebijakan yang diambil justru memunculkan kesan bahwa pemikirannya tumpul dan tidak menyentuh akar persoalan. Ini menjadi bahan pertanyaan besar bagi banyak kalangan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar