Ustaz Abdul Somad Bela Gubernur Riau Ditangkap KPK: Dampak & Risiko Dukungan Politik Ustaz

- Kamis, 06 November 2025 | 07:25 WIB
Ustaz Abdul Somad Bela Gubernur Riau Ditangkap KPK: Dampak & Risiko Dukungan Politik Ustaz
Ustaz Abdul Somad dan Dukungan Politik: Analisis Terkini Kasus Gubernur Riau

Ustaz Abdul Somad dan Dukungan Politik: Analisis Terkini Kasus Gubernur Riau

Oleh: Erizal

Direktur ABC Riset & Consulting

Gubernur Riau, Abdul Wahid, resmi ditangkap KPK. Menariknya, ustaz kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) langsung membela dengan pernyataan kontroversial: "Bukan ditangkap, melainkan dimintai keterangan."

Pernyataan Ustaz Abdul Somad ini tentu mengundang pertanyaan publik. Apakah sang ustaz memiliki informasi khusus dari dalam KPK? Atau ini bentuk pembelaan terhadap figur yang didukungnya?

Pola Berulang Gubernur Riau dan KPK

Ini bukan pertama kalinya Gubernur Riau berurusan dengan KPK. Seolah menjadi pola berulang, posisi ini kerap menjadi sorotan lembaga antirasuah. Yang menarik, Abdul Wahid adalah gubernur yang didukung penuh oleh Ustaz Abdul Somad selama kampanye pilkada.

Proses penangkapan Abdul Wahid juga menuai sorotan. Kabarnya, ia sempat melari dan akhirnya diamankan di sebuah kafe. Tindakan ini dinilai banyak kalangan sebagai langkah yang tidak strategis.

Dukungan Politik Ustaz Populer: Analisis Risiko

Kasus Abdul Wahid membuka kembali diskusi tentang peran ustaz populer dalam politik praktis. Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, Aa Gym, dan Gus Baha adalah contoh ustaz yang populeritasnya terjaga karena netralitas politik.

Berbeda dengan ustaz yang sejak awal terlibat dalam partai politik, tingkat popularitas mereka biasanya tidak setinggi ustaz yang netral. Padahal, dari segi ilmu, bisa jadi mereka setara atau bahkan lebih mendalam.

Efek Domino Dukungan Politik Ustaz

Ketika ustaz kondang memilih mendukung salah satu calon, ada risiko kehilangan jemaah yang berpihak pada kandidat lain. Tidak hanya berhenti di ketidaknyamanan, hal ini bisa berujung pada efek yang lebih destruktif.

Yang lebih berbahaya, ajaran Islam sendiri bisa terdampak negatif ketika figur ustaz terlibat dalam kontestasi politik yang sarat kepentingan.

Belajar dari Kasus Lain

Pelajaran penting bisa diambil dari kasus Bobby Nasution. Meskipun ada pejabat di lingkungannya yang ditangkap, Bobby bisa bertahan. Perbedaannya terletak pada kekuatan politik yang mendukung.

Fakta di lapangan membuktikan bahwa dukungan ustaz populer tidak serta-merta menjadi jaminan perlindungan dari proses hukum. Kasus Abdul Wahid menjadi bukti nyata.

Pilkada dan Pilihan Strategis Ustaz

Pada Pilpres sebelumnya, sudah banyak yang mengingatkan ustaz populer untuk tidak terjun dalam politik dukung-mendukung. Alam politik Indonesia yang cair membuat loyalitas dan integritas mudah tergadaikan.

Contoh terbaru adalah Projo yang dengan mudah mengubah narasi dari Pro Jokowi menjadi Pro Rakyat. Dalam lingkungan seperti ini, sulit bagi ustaz untuk menjaga netralitas dan kredibilitasnya.

Masa Depan Peran Ustaz dalam Politik

Kasus Abdul Wahid menjadi ujian berat bagi Ustaz Abdul Somad. Apakah ini akan menjadi akhir dari keterlibatannya dalam politik praktis? Atau justru menjadi awal bagi langkah yang lebih dalam?

Sejarah mencatat, UAS pernah mendukung Prabowo Subianto pada 2019 dan Anies Baswedan pada 2024, yang keduanya tidak berhasil. Kini, dukungannya terhadap Abdul Wahid berujung pada penangkapan oleh KPK.

Pertanyaan besar kini menggantung: apakah Ustaz Abdul Somad akan belajar dari pengalaman ini dan kembali fokus pada dakwah, atau akan memilih terjun sepenuhnya ke dunia politik praktis?

Komentar