Wamendagri Bima Arya Perintahkan Kepala Daerah Kawal Program Strategis Prabowo
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto secara resmi meminta seluruh kepala daerah untuk mengawal dan mempercepat implementasi program strategis nasional Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, memperkuat tata kelola pemerintahan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung.
Daftar Program Strategis Nasional yang Harus Diawalkan
Beberapa program prioritas yang menjadi fokus pemerintah meliputi:
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
- Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih
- Sekolah Rakyat (SR)
Dalam arahannya di hadapan 25 kepala daerah peserta Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Tahun 2025 di Lemhannas, Bima Arya menegaskan bahwa ini adalah babak baru dalam pengelolaan pemerintahan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antardaerah untuk membangkitkan ekonomi, salah satunya dengan saling memasok bahan baku untuk dapur Program Makan Bergizi Gratis.
Sinergi Daerah dan Pembentukan Dewan Aglomerasi
Selain program nasional, Wamendagri Bima Arya juga menginstruksikan kepala daerah untuk memperkuat kerja sama dalam menangani isu strategis seperti persoalan sampah, transportasi, dan kemacetan. Ia menyambut baik rencana pembentukan Dewan Aglomerasi yang akan ditunjuk langsung oleh Presiden Prabowo.
"Di situlah nanti perencanaan sampah, transportasi, dan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) akan disatukan," tegas Bima. Ia optimistis, dengan konsep aglomerasi yang telah sukses di negara seperti China, seluruh wilayah Indonesia dapat tumbuh secara lebih merata dan berkembang pesat.
Belajar dari Keberhasilan Daerah Lain
Bima Arya mendorong para kepala daerah untuk tidak sungkan mencontoh dan menerapkan praktik terbaik dari daerah lain. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri saat menjabat sebagai Wali Kota Bogor, di mana ia berhasil menerapkan strategi pengelolaan sampah ala Tri Rismaharini (Risma) dari Surabaya, yang akhirnya membawa Kota Bogor meraih Piala Adipura.
"Jadi Bapak-Ibu ini adalah ibarat konduktor di kotanya masing-masing. Lama-lama akan tahu irama mana yang harus dimatikan, irama mana harus dibunyikan," pungkas Wamendagri Bima Arya, menutup arahannya.
Artikel Terkait
Tanah Longsor di Wonosobo Tewaskan Satu Warga, Angin Kencang Rusak Delapan Rumah
PSM Makassar Kalahkan PSBS Biak 2-1, Jauhi Zona Degradasi
Mahfud MD Soroti Kecerdikan Strategi Jimly dalam Kasus Etik Anwar Usman
Gubernur Pramono Bergurau dengan JK Saat Pimpin Kerja Bakti Massal Pascabanjir