Suasana di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Minggu pagi itu cukup ramai. Ratusan orang sudah berkumpul untuk kerja bakti massal pascabanjir. Di tengah kerumunan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tampak berdampingan dengan Wakil Presiden ke-6 Jusuf Kalla. Saat memberikan sambutan, Pramono melontarkan candaan yang cukup mengundang tawa.
“Tadi, saya sambil bercanda sama Pak JK,” ujarnya kepada para wartawan yang meliput.
“Saya bilang, ‘Pak JK, kita ini dibesarkan dalam tradisi teknokrasi. Pasti Pak JK dan saya tak mau masuk gorong-gorong, tapi yang bekerja adalah pikiran dan otaknya’.”
Menurut sejumlah saksi, JK pun tertawa mendengar kelakar itu.
Pramono lalu melanjutkan dengan nada setengah bergurau. Ia sebenarnya tidak keberatan turun langsung ke gorong-gorong, tapi khawatir justru membuat heboh. “Sekali-sekali Gubernur DKI masuk gorong-gorong, saya mau aja Pak,” katanya.
“Tapi nanti wartawan malah kaget, kalau saya masuk gorong-gorong.”
Di balik candaannya, kerja bakti hari itu adalah sebuah aksi besar-besaran. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengerahkan tidak kurang dari 171.134 personel gabungan. Mereka berasal dari unsur pemerintah, masyarakat, hingga perusahaan swasta. Kegiatan ini menyebar di 44 kecamatan dan 267 kelurahan secara serentak.
Unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah atau Forkopimda juga turun tangan. Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya ikut serta. Ini semua merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden dalam sebuah rapat koordinasi nasional sebelumnya.
Sementara itu, fokus utamanya jelas: membersihkan saluran air. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan bahwa pengurasan dan pembersihan saluran adalah kunci untuk meningkatkan kapasitas aliran dan mencegah penyumbatan sampah di masa datang.
“Karena yang namanya ‘fogging’ atau pengasapan itu belum tentu bisa mengurangi jentik-jentik nyamuk,” jelas Rano.
“Jentik-jentik paling efektif kalau kita bersihkan lingkungan. Makanya kan dulu kita dengar slogan 3M: menguras, menutup, mengubur atau mendaur ulang. Nah, inilah yang harus kita sampaikan ke masyarakat.”
Dukungan logistik pun tak main-main. Untuk mendukung kegiatan, Pemprov mengerahkan 60 unit alat berat dan 144 truk pengangkut. Mereka difokuskan pada 66 titik yang dianggap prioritas.
Kolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) se-DKI Jakarta juga dilakukan. PMI menyediakan ribuan peralatan, mulai dari hampir 5.000 cangkul dan sekop, 10.000 gerobak dorong, hingga 3.000 karung untuk mengangkut sampah. Peralatan itu didistribusikan merata ke setiap kota administrasi.
Di akhir penjelasannya, Rano Karno mengajak semua pihak untuk punya kesadaran kolektif. Menjaga kebersihan lingkungan bukan cuma urusan pemerintah saat banjir, tapi tanggung jawab bersama setiap hari. Tujuannya agar Jakarta bisa lebih sehat dan terbebas dari ancaman banjir maupun penyakit yang muncul dari lingkungan yang kotor.
Artikel Terkait
Tanah Longsor di Wonosobo Tewaskan Satu Warga, Angin Kencang Rusak Delapan Rumah
PSM Makassar Kalahkan PSBS Biak 2-1, Jauhi Zona Degradasi
Mahfud MD Soroti Kecerdikan Strategi Jimly dalam Kasus Etik Anwar Usman
Bahlil Ingatkan Kader Golkar: Posisi Strategis Bisa Diganti Kapan Saja Jika Tak Perform