Wacana Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan bahasa Portugis sebagai bahasa prioritas di dunia pendidikan mendapatkan respons kritis dari pakar linguistik. Daniel H. Jakob, seorang pengajar dari Universitas Indonesia, menyarankan pemerintah agar tidak mengambil keputusan secara impulsif terkait kebijakan bahasa ini.
Daniel Jakob menegaskan pentingnya pendekatan yang terencana. Ia mengusulkan agar kerja sama dengan negara berbahasa Portugis, seperti Brasil, difokuskan pada bidang lain yang lebih langsung berdampak, seperti sepak bola. Pernyataan ini disampaikannya dalam diskusi Indonesia Leaders Talk yang diunggah pada Jumat, 31 Oktober 2025.
Lebih lanjut, pakar bahasa ini mengungkapkan kendala mendasar dalam wacana ini, yaitu minimnya infrastruktur pendidikan untuk bahasa Portugis di Indonesia. Ia menyoroti fakta bahwa bahkan di Universitas Indonesia sekalipun, bahasa Portugis hanya ditawarkan sebagai mata kuliah, bukan sebagai program studi yang lengkap. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang dari mana sumber pengajar bahasa Portugis yang kompeten akan datang jika kebijakan ini diterapkan.
Sebagai penutup, Daniel menekankan bahwa prioritas utama seharusnya adalah memperkuat dan memperbaiki kualitas pembelajaran dua bahasa inti, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang masih menghadapi berbagai tantangan, sebelum mempertimbangkan untuk menambahkan bahasa asing baru ke dalam kurikulum.
Artikel Terkait
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi