Mitos Hidup Tanpa Ideologi: Setiap Pilihan Hidupmu Ternyata Berpijak pada Suatu Ideologi
Banyak orang percaya bahwa mereka hidup tanpa ideologi. Ungkapan seperti, "Saya hanya ingin hidup tenang," atau "Saya tidak ikut-ikut urusan ideologi," sering kita dengar. Namun, tahukah Anda bahwa setiap keputusan yang Anda ambil tentang tujuan hidup, cara mencari kebahagiaan, dan cara memandang manusia lainnya selalu berpijak pada suatu ideologi, baik disadari maupun tidak.
7 Contoh Ideologi yang Mungkin Tanpa Sadar Anda Anut
Berikut adalah beberapa ideologi yang sering dijalani tanpa disadari:
- Materialis: Jika Anda memutuskan hidup untuk mengejar kekayaan, maka orientasi hidup Anda adalah materi.
- Liberalisme: Jika Anda mengejar kebebasan mutlak tanpa batas, Anda sedang memuja paham liberal.
- Nasionalis: Jika Anda hidup hanya untuk bangsa dan suku, maka itulah nasionalisme.
- Stoik: Jika Anda hanya ingin tenang, sabar, dan menerima takdir tanpa memperjuangkan perubahan, maka Anda hidup sebagai penganut stoik.
- Ateisme: Jika Anda menolak agama dan meyakini bahwa manusia bisa hidup tanpa Tuhan, maka Anda tunduk pada sekularisme atau ateisme.
- Darwinis: Jika Anda meyakini bahwa hidup hanyalah hasil evolusi dan manusia tidak punya tujuan selain bertahan hidup, maka Anda seorang darwinis.
- Nihilisme: Jika Anda berkata bahwa hidup tidak punya makna, tidak ada tujuan, dan semua hal sia-sia, maka Anda hidup dalam nihilisme.
Kesimpulannya, semua orang berideologi. Tidak ada hidup yang benar-benar netral dari nilai dan arah. Perbedaannya hanya terletak pada ideologi mana yang menjadi poros hidup Anda.
Keterbatasan Ideologi Buatan Manusia
Setiap ideologi yang berasal dari pemikiran manusia memiliki batasannya masing-masing:
- Stoikisme berhenti pada batin.
- Kapitalisme berhenti pada harta.
- Nasionalisme berhenti pada batas teritorial.
- Darwinisme berhenti pada tubuh fisik.
- Nihilisme berhenti pada kehampaan makna.
- Sekularisme berhenti pada urusan dunia.
- Postmodernisme berhenti pada kebingungan relatif.
Pandangan Islam yang Memuliakan Manusia
Islam hadir dengan perspektif yang lebih tinggi tentang manusia. Dalam Islam, manusia bukan sekadar hewan yang bekerja untuk bertahan hidup, bukan mesin ekonomi, bukan budak bangsa, dan bukan makhluk tanpa makna. Islam memuliakan manusia sebagai 'abdullāh (hamba Allah) dan khalīfatullāh (wakil Allah di bumi). Manusia memiliki ruh, akal, dan amanah; hidupnya bukanlah suatu kebetulan, melainkan memiliki tujuan yang jelas.
Islam datang sebagai sistem hidup yang sempurna. Ia tidak lahir dari filsafat hayalan manusia, melainkan dari wahyu Sang Pencipta manusia. Islam tidak memisahkan antara dunia dan akhirat, antara urusan pribadi dan negara, serta antara ibadah dan sosial.
Islam Mengatur Seluruh Aspek Kehidupan
Kesempurnaan Islam terlihat dari cakupannya yang menyeluruh:
- Cara menjaga kebersihan, bahkan dalam hal kencing, diatur.
- Cara makan diatur dengan konsep halal untuk menjaga kesehatan.
- Cara berdagang diatur untuk mencegah penipuan dan riba.
- Cara memimpin diatur untuk menegakkan keadilan di muka bumi.
Semua aspek kehidupan memiliki tuntunannya, karena Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah ideologi peradaban yang mengatur dari perkara terkecil hingga terbesar.
Inilah yang membedakan Islam dari ideologi buatan manusia. Ideologi lain hanya menebak-nebak bagaimana seharusnya manusia hidup, sementara Islam memberikan petunjuk langsung dari Pencipta kehidupan. Oleh karena itu, menolak aturan Islam pada hakikatnya bukan hanya menolak syariat, tetapi juga menolak kebenaran fitrahnya sendiri.
Artikel Terkait
PSM Makassar Kalahkan PSBS Biak 2-1, Jauhi Zona Degradasi
Mahfud MD Soroti Kecerdikan Strategi Jimly dalam Kasus Etik Anwar Usman
Gubernur Pramono Bergurau dengan JK Saat Pimpin Kerja Bakti Massal Pascabanjir
Bahlil Ingatkan Kader Golkar: Posisi Strategis Bisa Diganti Kapan Saja Jika Tak Perform