Dampak dan Makna Hari Santri bagi Dunia Pesantren
Sejak ditetapkan, Hari Santri menjadi tonggak kebanggaan bagi dunia pesantren. Di berbagai daerah, peringatan ini disambut dengan kirab, pembacaan shalawat, dan lomba baca kitab kuning. Bagi Lathifah, seorang santri asal Jombang, Hari Santri bukan sekadar perayaan. "Ini pengakuan negara terhadap kami," ujarnya. "Dulu, santri sering dianggap kelas dua, sekarang kami diundang ke istana."
Dari perspektif pendidikan, penetapan ini memperkuat posisi pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Kementerian Agama mencatat, Indonesia memiliki lebih dari 37 ribu pesantren dengan 5 juta santri aktif angkanya terus meningkat setiap tahun. Mereka bukan hanya calon kiai, tetapi juga dokter, pebisnis, dan insinyur yang lahir dari kultur pesantren.
Tantangan dan Harapan di Balik Peringatan Hari Santri
Namun, tidak semua sepakat bahwa Hari Santri sudah berada di jalur yang tepat. Di beberapa daerah, peringatan ini justru bergeser menjadi ajang seremonial belaka. Para pejabat datang berbaris mengenakan sarung baru, kamera berdesak-desakan, sementara pesan moral Resolusi Jihad memudar di balik baliho besar bertuliskan slogan politik.
"Kadang saya sedih melihatnya," kata Kiai Thariq dengan nada getir. "Hari Santri semestinya menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar festival."
Kritik serupa datang dari kalangan akademisi yang menilai pemerintah belum memberikan perhatian nyata terhadap kesejahteraan pesantren. Akses pendidikan tinggi bagi santri masih terbatas, dana operasional minim, dan banyak pesantren di pelosok bertahan dengan fasilitas seadanya.
Relevansi Hari Santri di Era Modern
Menjelang malam 22 Oktober, di beberapa pesantren di Jawa Timur, para santri berkumpul menggelar doa bersama. Di hadapan mereka, bendera merah putih berkibar, dikelilingi lampu minyak yang berkelip.
Seorang kyai menyampaikan wejangan, "Santri zaman sekarang tidak lagi berperang dengan bambu runcing, tapi jihad mereka tetap sama: melawan kebodohan, kemiskinan, dan korupsi."
Hari Santri adalah pengingat bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar usai. Resolusi Jihad telah bertransformasi dari panggilan angkat senjata menjadi seruan moral untuk menjaga kejujuran, akhlak, dan keutuhan bangsa.
Artikel Terkait
PAM JAYA Pacu Akses Air Bersih, Tarif Tak Naik di 2026
Hengkang dari WHO, AS Terganjal Tunggakan Rp 3,7 Triliun
KPK Geledah Kediaman Wali Kota Madiun dan Bupati Pati, Uang Tunai Diamankan
Lubang Maut di Narogong: Kecelakaan Berulang di Tengah Upaya Warga