Gelombang panas (heatwave) yang melanda Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya memecahkan rekor suhu di sejumlah wilayah, tetapi juga mengubah aktivitas sehari-hari masyarakat. Dua warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di AS mengaku memilih mengurangi kegiatan di luar ruangan karena cuaca yang terasa jauh lebih ekstrem dibanding biasanya.
Rivan Dwiastono (35), WNI yang menetap di Washington DC sejak 2020, merasakan dampaknya langsung. "Jadi peliket banget. Pokoknya kalau kita keluar rumah pas kemarin weekend itu, baru juga misalnya di luar sekitar lima detik aja itu langsung terasa seperti tertekan udaranya," ungkapnya. Suhu udara sempat mencapai 39 derajat Celsius, namun suhu yang dirasakan tubuh (real feel) bahkan menyentuh sekitar 45 derajat Celsius karena kelembapan yang tinggi.
Pengalaman serupa dirasakan Reyska Ramdhany, mahasiswi program magister di Syracuse University, New York. "Pastinya panas, dan mudah dehidrasi," katanya.
Panas Tak Lagi Seperti Biasanya
Bagi Reyska, cuaca kali ini terasa tidak biasa karena Syracuse selama ini dikenal sebagai Snow City, salah satu kota dengan curah salju tertinggi di AS. "Musim dingin terakhir berlangsung lebih dari lima bulan dengan mayoritas suhu minus. Jadi ketika musim panas kali ini lebih panas, terasa sekali," ujarnya. Menurut Badan Cuaca Nasional AS, Syracuse pada 1 Juli mencatat suhu 96 derajat Fahrenheit atau sekitar 35,6 derajat Celsius, memecahkan rekor suhu tertinggi untuk tanggal tersebut yang telah bertahan selama 95 tahun sejak 1931.
Rivan juga merasakan perubahan rasa panas di AS sejak ia pertama tinggal pada 2016. "Kalau dibandingkan 10 tahun lalu, sekarang memang terasa semakin panas. Bahkan belum masuk puncak musim panas di Agustus. Mudah-mudahan tidak lebih parah lagi," katanya.
Aktivitas hingga Perayaan Terganggu
Pemerintah setempat mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air, serta tetap berada di ruangan berpendingin udara. Parade Hari Kemerdekaan di Washington DC dibatalkan, sementara area Great American State Fair di National Mall sempat ditutup hingga sore hari karena suhu yang dinilai membahayakan kesehatan. "Awalnya saya juga ingin nonton pesta kembang api Fourth of July, tapi akhirnya batal karena panasnya luar biasa," ujar Rivan.
Kantor Rivan bahkan memberikan opsi bekerja dari rumah selama cuaca ekstrem berlangsung. "Bagian operasional kantor sudah kirim email, semacam peringatan soal suhu ekstrem. Jadi boleh sesuaikan jadwal kerja, kalau mau WFH atau remote, ada opsi itu. Kalau mau tetap di kantor, bagian operasional akan mengoptimalkan AC agar cuaca di dalam sejuk," jelasnya.
Warga Diimbau Waspada
Meski kondisi saat ini sudah tidak lagi mencapai 30 derajat Celsius, Rivan dan Reyska tetap waspada dan memantau prakiraan cuaca secara berkala. Untuk menghadapi heatwave, Reyska mengungkap kebijakan pemerintah di wilayahnya tinggal. "Pemerintah setempat membuka cooling center atau tempat berteduh berpendingin udara, mengoperasikan kolam renang umum, serta menyediakan layanan bantuan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis," bebernya.
Pemerintah juga mengingatkan warga agar tidak meninggalkan anak-anak, lansia, maupun hewan peliharaan di dalam kendaraan. Pada suhu sekitar 80 derajat Fahrenheit atau sekitar 26 derajat Celsius, suhu di dalam mobil dapat meningkat sekitar 20 derajat hanya dalam waktu 10 menit. Rivan pun membagikan tips sederhana bagi masyarakat yang menghadapi cuaca panas ekstrem. "Kurangi kegiatan di luar ruangan, tetap terhidrasi, dan kalau memungkinkan berada di ruangan yang sejuk. Karena dari pemberitaan juga ada banyak korban yang meninggal akibat heatwave ini," tuturnya.
Artikel Terkait
Gelombang Panas Ekstrem Landa AS, 25 Orang Tewas
Trump Klaim AS Hancurkan Militer Venezuela dan Iran dalam Pidato 4 Juli
Trump Tetap Berpidato di Perayaan 4 Juli Meski Cuaca Buruk dan Ribuan Orang Dievakuasi
Suhu Capai 46 Derajat Celsius, Parade HUT ke-250 AS di Washington DC Dibatalkan