Mesir Bangga pada Timnas Meski Tersingkir, Kecam Keputusan Wasit

- Kamis, 09 Juli 2026 | 08:50 WIB
Mesir Bangga pada Timnas Meski Tersingkir, Kecam Keputusan Wasit

Warga Mesir merayakan perjalanan bersejarah tim nasional mereka di Piala Dunia, namun kekecewaan mendalam muncul setelah tersingkir secara dramatis dari babak 16 besar. Mereka menuding keputusan wasit yang dinilai berat sebelah sebagai penyebab kekalahan dari Argentina, juara bertahan dunia.

Malam itu diawali dengan euforia ketika Mesir unggul dua gol atas Argentina di Atlanta. Namun, dalam waktu 13 menit, keadaan berbalik drastis. Argentina, yang dipimpin Lionel Messi, mencetak tiga gol untuk memastikan tempat di perempat final dan mengubur mimpi Mesir.

Sepak bola adalah gairah besar di Mesir. Jutaan penggemar menyaksikan pertandingan dari kafe, alun-alun, hingga rumah. Mimpi melaju ke perempat final terasa begitu dekat setelah penampilan impresif melawan sang juara dunia. Namun, kebangkitan Argentina pada menit-menit akhir menghancurkan harapan itu.

Akhir pertandingan yang dramatis mengubah kegembiraan menjadi kesedihan, lalu kemarahan. Banyak warga Mesir menilai wasit membuat serangkaian keputusan yang menguntungkan Argentina. Meski demikian, rasa bangga terhadap penampilan tim nasional tetap mendominasi. Tim asuhan Hossam Hassan, yang dipimpin Mohamed Salah, dinilai tampil sebaik yang pernah disaksikan dalam beberapa tahun terakhir.

Di sebuah kafe di Badrshein, Kairo Raya, Umm Wafaa duduk bersama putri-putrinya. Awalnya ia beralasan anak-anaknya yang memaksa datang, tetapi tak lama kemudian ia ikut bersorak setelah kiper Mostafa Shobeir menggagalkan penalti Messi. "Sejujurnya, saya menjadikan anak-anak sebagai alasan agar bisa menonton pertandingan... dan mereka memang menyemangati saya," katanya. "Sudah dua hari semua orang hanya membicarakan pertandingan ini. Selain itu, apa yang dilakukan Hossam Hassan mengangkat bendera Palestina dan berbicara tentang rakyat Gaza membuat saya semakin terdorong untuk keluar rumah."

Dari Kegembiraan Menuju Kesedihan

Euforia mencapai puncak ketika Yasser Ibrahim mencetak gol pada babak pertama dan Mostafa Zico menambah gol kedua pada babak kedua. Bahkan sebuah gol Mesir yang dianulir secara kontroversial tidak mampu meredam semangat pendukung. Ihab Omar, seorang sopir tuk-tuk, semakin bersemangat seiring pertandingan. "Kalau sebelumnya kami diminta membayangkan skenario babak pertama, kami tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang benar-benar terjadi," ujarnya.

Semakin waktu berjalan, Ihab semakin optimistis. Ia mulai bertanya tentang calon lawan di perempat final. Namun, sepak bola bisa kejam. Bek Argentina Cristian Romero mencetak gol pada menit ke-79, dan wajah Ihab menunjukkan kekhawatiran. "Insyaallah kita akan mencetak gol ketiga dan menghabisi mereka," gumamnya. Namun, Messi berbicara. Empat menit setelah assist untuk Romero, ia mencetak gol penyeimbang. Tak lama, Enzo Fernandez menyundul umpan silang untuk gol kemenangan.

Ihab meluapkan kemarahan dengan membalikkan meja. "Wasit yang kejam dan tidak adil! Dari awal itu seharusnya pelanggaran terhadap Salah yang menghasilkan penalti," katanya, merujuk pada insiden yang dianggap pelanggaran terhadap kapten Mesir dalam proses gol Argentina. Berbeda dengan gol Mesir yang dianulir setelah ditinjau, dugaan pelanggaran itu tidak diperiksa VAR dan gol Argentina tetap disahkan. Umm Wafaa juga patah hati. "Kemenangan sebenarnya sudah di depan mata," katanya, tetapi ia tidak menyalahkan pemain. Penyebab utama, menurutnya, adalah "wasit yang tidak adil".

Bangga Terhadap Tim

Usai pertandingan, Ihab berusaha menahan air mata. "Meskipun mimpi kami hancur setelah begitu dekat, kamilah yang pantas menang. Kami memainkan pertandingan terbaik dalam hidup kami melawan Messi," katanya. "Tapi jelas FIFA tidak ingin Messi tersingkir. Meski begitu, demi Allah, kami tetap bangga dengan tim nasional. Alhamdulillah kami bertanding secara terhormat. Kalau bukan karena ketidakadilan itu, kami pasti sudah berada di perempat final."

Penampilan Mesir juga menuai pujian bagi pelatih Hossam Hassan. Mantan penyerang bintang yang sebelumnya banyak dikritik sejak mengambil alih kursi pelatih pada 2024 itu kini mendapat pengakuan. Mohamed Antar, salah satu pengkritiknya, mengaku berubah pikiran. "Awalnya saya bukan penggemar Hossam Hassan, tetapi sekarang saya benar-benar mengubah penilaian saya terhadapnya," kata Mohamed dari sebuah kafe di Sheikh Zayed City, Kairo. "Baik dari segi tim yang ia bangun, semangat yang berhasil ia hidupkan kembali sesuatu yang belum kami rasakan sejak era Mohamed Aboutrika maupun sikapnya yang mencerminkan perasaan kami terhadap Gaza. Hari ini kami bangga dengan permainan dan penampilan tim nasional. Kami sedih karena kemenangan direnggut akibat keputusan wasit, tetapi kami juga bangga atas pencapaian yang telah diraih, serta pengakuan dunia bahwa kamilah yang sebenarnya lebih layak menjadi pemenang."

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags