Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai sekitar 3.700 Gigawatt (GW), namun kapasitas pembangkit listrik yang terpasang baru 107 GW. Kesenjangan ini menjadi sorotan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema "Sustainability Ketenagalistrikan untuk Ketahanan Energi Indonesia" yang digelar Student Union (BEM) Universitas Paramadina, Rabu (8/7/2026).
Forum yang mempertemukan akademisi, pemuda, dan tokoh masyarakat itu membahas arah kebijakan energi nasional di tengah tuntutan global menuju energi bersih. Hadir sebagai narasumber Founder Indonesia Muda Nasarullah Hamid, Ketua KNPI Muhammad Natsir, serta dosen senior Universitas Paramadina Dr. Herdi Sahrasad. Diskusi dipandu mantan Ketua BEM Universitas Paramadina, Hudan Lil Mutaqin.
Sejak awal diskusi, para pembicara sepakat bahwa pemadaman listrik bergilir tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Gangguan listrik merupakan bagian dari mata rantai persoalan yang lebih luas, mulai dari ketahanan pasokan energi primer, investasi infrastruktur, tata kelola sektor ketenagalistrikan, hingga kebijakan publik. Listrik bukan lagi isu sektoral, melainkan urat nadi aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, dan transformasi digital.
Potensi dan Tantangan Transisi Energi
Menurut para narasumber, transisi energi merupakan kebutuhan strategis yang tidak dapat dihindari. Dunia bergerak menuju sistem energi rendah karbon sebagai respons terhadap perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi. Indonesia, dengan potensi sumber daya energi terbesar, memiliki peluang besar menjadi pemain penting dalam transformasi tersebut. Namun, mereka mengingatkan agar transisi tidak dilakukan tergesa-gesa atau sekadar mengikuti tren global. Perubahan harus mempertimbangkan kondisi sosial, kemampuan fiskal negara, kesiapan industri nasional, serta akses masyarakat terhadap energi yang terjangkau.
Transisi energi harus dibangun di atas tiga prinsip utama: realistis, inklusif, dan berkelanjutan. Realistis berarti disesuaikan dengan kemampuan nasional dan kondisi sistem ketenagalistrikan yang ada. Inklusif berarti seluruh kelompok masyarakat memperoleh manfaat. Berkelanjutan berarti menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kepentingan generasi mendatang.
Para narasumber juga menyoroti komitmen Indonesia mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 serta peningkatan bauran EBT. Sektor ketenagalistrikan menjadi salah satu sektor paling menentukan karena berhubungan langsung dengan hampir seluruh aktivitas ekonomi nasional. Namun, keberhasilan transisi tidak cukup diukur dari besarnya porsi energi terbarukan. Yang tidak kalah penting adalah menjaga keandalan sistem kelistrikan, memastikan tarif tetap terjangkau, dan menjamin pemerataan akses listrik hingga ke pelosok.
Dr. Herdi Sahrasad menilai masih ada ruang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan pemanfaatan listrik.
"Dalam hal ini, konsumsi listrik rata-rata orang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara tetangga," ujarnya.
Menurutnya, fakta itu menunjukkan kebutuhan listrik nasional akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan peningkatan kualitas hidup. Oleh sebab itu, pembangunan sektor ketenagalistrikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang.
Ketahanan Energi sebagai Ketahanan Nasional
Dalam diskusi juga mengemuka bahwa ketahanan energi bukan sekadar memiliki sumber daya alam melimpah. Yang lebih penting adalah kemampuan mengelola sumber daya tersebut menjadi energi yang andal, efisien, berkelanjutan, dan mendukung daya saing nasional. Berbagai negara kini berlomba membangun sistem energi lebih bersih karena menyadari bahwa ketahanan energi telah menjadi bagian dari ketahanan ekonomi. Negara yang mampu menyediakan energi stabil, terjangkau, dan rendah emisi akan memiliki daya tarik investasi lebih besar.
Bagi Indonesia, tantangan itu sekaligus membuka peluang. Potensi tenaga surya, panas bumi, tenaga air, angin, bioenergi, hingga energi laut merupakan modal strategis. Apabila dikelola optimal melalui kebijakan konsisten dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia berpeluang menjadi pusat pertumbuhan energi bersih di kawasan.
Para pembicara menekankan bahwa pembangunan ketahanan energi harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah menyiapkan regulasi yang memberikan kepastian, dunia usaha menghadirkan investasi dan inovasi, perguruan tinggi menghasilkan riset dan SDM unggul, sedangkan masyarakat menjadi bagian dari transformasi melalui budaya hemat energi dan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.
Kampus memiliki posisi strategis sebagai ruang lahirnya gagasan baru. Diskusi akademik seperti yang diselenggarakan Universitas Paramadina diharapkan dapat memperkaya perspektif publik sekaligus memberikan rekomendasi bagi perumusan kebijakan energi nasional. Lebih dari itu, para peserta menilai bahwa tantangan energi masa depan tidak hanya berkaitan dengan perubahan teknologi, tetapi juga perubahan cara berpikir. Ketahanan energi harus dipahami sebagai bagian dari ketahanan nasional yang menentukan stabilitas ekonomi, kemandirian industri, keamanan negara, hingga kesejahteraan masyarakat.
Di tengah ketidakpastian global konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, tekanan perubahan iklim kemampuan suatu negara menjaga sistem energinya menjadi faktor yang semakin menentukan. Negara dengan sistem energi tangguh akan lebih mampu menjaga pertumbuhan ekonomi dan melindungi masyarakat dari gejolak eksternal. Melalui forum ini, Universitas Paramadina menegaskan bahwa masa depan energi Indonesia tidak cukup dibangun melalui infrastruktur semata. Yang dibutuhkan adalah visi jangka panjang yang menyinergikan kepentingan ekonomi, lingkungan, teknologi, dan keadilan sosial.
Pada akhirnya, transisi energi bukan sekadar mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Lebih dari itu, transisi merupakan momentum membangun fondasi baru bagi Indonesia agar memiliki sistem energi yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing. Dengan langkah realistis, inklusif, dan berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar menjadikan ketahanan energi sebagai kekuatan strategis dalam menghadapi perubahan dunia sekaligus mewariskan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Artikel Terkait
Rektor Paramadina: Kebijakan PTN Tidak Adil bagi Perguruan Tinggi Swasta
Camping Filsafat Mahasiswa Paramadina: Merenungkan Kebahagiaan di Tengah Krisis Iklim
Eddy Soeparno: Pertumbuhan 8 Persen Harus Seiring Ketahanan Energi dan Pembangunan Berkelanjutan
Eddy Soeparno: Momentum Indonesia Beralih dari Negara Berpotensi Energi Terbarukan Menjadi Negara Pemanfaat