Di tengah krisis lingkungan, korupsi, dan persoalan sosial yang kian kompleks, sekelompok mahasiswa Sekolah Pascasarjana Studi Islam Universitas Paramadina menggelar Simposium Falsafah-Agama dalam kegiatan Camping Filsafat di Bukit Sentul, Bogor, pada 4–5 Juli 2026. Forum ini menjadi ruang perenungan atas pertanyaan-pertanyaan mendasar: bisakah manusia menemukan kebahagiaan di tengah krisis? Mengapa gelombang panas ekstrem terus melanda Eropa? Dan apa makna kebahagiaan bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan?
Acara yang berlangsung selama dua hari itu menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain ahli filsafat Dr. Budhy Munawar Rachman, ilmuwan sosial Dr. Herdi Sahrasad, akademisi Dr. Sunaryo, dan antropolog Dr. Suratno, M.A. Mereka membahas berbagai isu, mulai dari hakikat kebahagiaan hingga krisis iklim, dalam diskusi yang hangat dan mendalam.
Dr. Budhy Munawar Rachman memaparkan bahwa gelombang panas ekstrem di Eropa dipicu oleh fenomena heat dome, yaitu kubah panas yang memerangkap udara panas, diperparah oleh perubahan iklim global. "Suhu mencapai lebih dari 43 derajat Celsius, memicu rekor suhu tertinggi dan ratusan korban jiwa akibat cuaca ekstrem," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Prancis dan Spanyol mencatat ribuan kasus kematian serta peningkatan jumlah pasien rumah sakit akibat suhu yang menyengat.
Dosen filsafat STF Driyarkara itu juga mengupas konsep kebahagiaan dalam tradisi filsafat klasik, khususnya Eudaimonia yang diperkenalkan Aristoteles. "Kebahagiaan tertinggi bukan soal perasaan, melainkan aktivitas jiwa yang selaras dengan kebajikan dan rasionalitas dalam menjalani kehidupan secara utuh," tuturnya.
Senada dengan itu, Dr. Sunaryo menegaskan bahwa dalam filsafat, kebahagiaan bukan sekadar kesenangan emosional yang bersifat sementara. "Kebahagiaan merupakan tujuan akhir kehidupan (summum bonum) yang dicapai melalui kebijaksanaan, kebajikan, dan kehidupan yang bermakna. Pemaknaannya sangat bergantung pada aliran yang dianut, mulai dari rasionalitas, pengendalian diri hingga spiritualitas," ujarnya. Ia menambahkan, kebahagiaan juga dapat bersumber dari ketenangan batin (ataraxia), yaitu kondisi ketika seseorang berfokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan serta menerima dengan lapang dada segala sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Para pembicara juga menyoroti kecenderungan masyarakat abad ke-21 yang mengaitkan kebahagiaan dengan hedonisme. Namun, Dr. Herdi Sahrasad mengingatkan adanya paradoks. "Filsuf John Stuart Mill mengingatkan adanya paradoks hedonisme. Semakin obsesif seseorang mengejar kebahagiaan, justru semakin sulit kebahagiaan itu diperoleh," katanya. Ia juga mengutip pandangan Al-Ghazali mengenai hakikat kebahagiaan sejati (al-falah) yang bersumber pada pengenalan terhadap diri sendiri, dunia, dan Sang Pencipta.
Melalui Camping Filsafat ini, para peserta diajak memahami bahwa berfilsafat bukan sekadar membahas teori, melainkan melatih cara berpikir kritis untuk membaca berbagai persoalan kemanusiaan, mulai dari krisis iklim hingga pencarian makna kebahagiaan dalam kehidupan modern.