PSI Incar PDIP, tapi Suara Masih Jauh dari Ambang Parlemen

- Senin, 06 Juli 2026 | 06:00 WIB
PSI Incar PDIP, tapi Suara Masih Jauh dari Ambang Parlemen

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai tidak realistis jika ingin mengalahkan PDI Perjuangan (PDIP) dalam pemilu mendatang. Pasalnya, partai berlambang mawar itu sendiri belum lolos ambang batas parlemen. Pandangan ini disampaikan oleh Guntur Romli, kader PDIP yang sebelumnya juga pernah menjadi kader PSI.

Menurut Guntur, jika PSI berada di peringkat kedua, wajar saja ingin mengalahkan PDIP yang di peringkat pertama. Namun, kenyataannya PSI bahkan tidak lolos parlemen. "Mengubah kandang banteng menjadi kandang gajah? Mana bisa? Sungguh tidak logis," ujarnya.

Langkah PSI yang menjadikan PDIP sebagai lawan utama dipertanyakan. Apalagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) turut serta dalam prosesi pemberian gelar adat di Lampung sambil menginjak kepala kerbau, yang dinilai seharusnya dihindari. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda elektabilitas PSI naik signifikan. Direktur Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan suara PSI masih di bawah hasil Pilpres sebelumnya.

Perseteruan antara PSI dan PDIP belum terlihat menguntungkan salah satu pihak. "Ini hanya terlihat heboh di media; saling jawab antara petinggi PSI dan PDIP saja. Gunanya bagi kedua partai, belum ada. Tapi, bagi partai lain, tentu saja menguntungkan," kata pengamat. Jika kedua partai terus saling cakar, pemilih justru bisa beralih ke partai lain seperti Gerindra, Golkar, PKB, atau NasDem.

PSI dinilai perlu segera mengubah strategi. Namun, masukan sulit diberikan kepada Presiden Jokowi yang belum pernah kalah dalam pemilihan. "Pileg dan Pilpres itu tidak sama, mungkin itu sepenuhnya belum disadarinya. Jauh sebelum ada Jokowi, PDIP sudah pemenang," ujar sumber. Faktanya, elektabilitas PSI belum bergerak naik, bahkan cenderung turun.

Ditambah lagi, Sekjen PSI yang juga Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, tengah diterpa isu korupsi. "Bisa jadi partai lain akan memulai di saat PSI sudah selesai. Ini hanya gambaran saja, betapa masih besarnya ambisi politik seorang Jokowi, meski sudah memiliki dan merasakan segalanya," pungkasnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags