Seorang akademisi menyoroti keanehan dalam kuesioner Sensus Ekonomi yang baru saja dilaksanakan. Rumahnya didatangi petugas sensus beberapa hari lalu, namun ia menemukan kejanggalan pada urutan pertanyaan yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip dasar metodologi riset.
Menurut pengamat yang juga pengajar Metodologi Riset, kuesioner seharusnya memulai dengan pertanyaan yang mudah dan cepat dijawab agar responden merasa nyaman. Namun, dalam sensus ini, pertanyaan tentang pendapatan justru ditempatkan di awal. Ia menilai hal itu dapat membuat banyak orang enggan melanjutkan wawancara.
“Prinsipnya: pertanyaan yang mudah/cepat dijawab harusnya duluan ditanyakan. Sehingga responden merasa nyaman dan bersedia lanjut jawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Yang paling sulit dan sensitif seperti keuangan dan preferensi politik harusnya ditanyakan belakangan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tidak adanya pertanyaan tentang utang, padahal data tersebut penting, terutama terkait pinjaman online. Sementara itu, kuesioner justru menanyakan pendapatan, aset seperti rumah dan kendaraan, serta pengeluaran secara keseluruhan.
Kritik ini disampaikan melalui media sosial dan menuai beragam tanggapan. Belum ada tanggapan resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait hal ini.
Artikel Terkait
Tiga Karyawan Percetakan di Senen Disekap dan Diborgol Selama Tiga Minggu
IPL 2025: Bagaimana Pembaruan Pertandingan Langsung Mengubah Cara Penggemar Menikmati Kriket
Polisi Tangkap Dua Pelaku Penyekapan Karyawan Percetakan di Senen, Korban Diborgol dan Dirantai
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Pendekatan Militer dalam Pelatihan Manajer Koperasi Desa Merah Putih