Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya pun membeberkan sederet kejanggalan. Yang pertama, ia meminta dilakukan otopsi ulang dan rekonstruksi ulang, karena hampir sejumlah fakta maupun peristiwa itu sangat susah didapatkan.
Ia juga mempertanyakan CCTV di Polsek Kuranji yang mendadak dinyatakan mati. Selain itu, dia menyebut sejumlah lembaga juga dipersulit mendapat akses pendampingan terhadap belasan remaja yang ditangkap karena diduga hendak tawuran.
"Jadi ini hal yang sangat aneh dan sangat janggal perkembangannya sampai hari ini. Jadi perlu tindakan-tindakan luar biasa untuk membongkar praktik kekerasan dalam konteks pembunuhan Afif Maulana," kata Dimas di Jakarta, Senin (1/7/2024).
Diketahui, Polda Sumbar menghentikan dan menutup kasus kematian bocah SMP di Padang, Afif Maulana (AM). Penutupan kasus tersebut dilakukan setelah keluarnya hasil otopsi korban Afif Maulana.
Penyebab kematian korban disebabkan patahnya tulang iga belakang bagian kiri sebanyak 6 ruas dan patahannya merobek paru-paru. Sebelumnya isu beredar bahwa Afif Maulana meninggal karena disiksa oleh polisi.
Artikel Terkait
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai
Dentuman Kembali di Aleppo, 22 Nyawa Melayang dalam Bentrokan
Gaji Dua Digit: Simbol Prestasi atau Jerat Kecemasan?