Juru Bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang, memberikan penjelasan rinci.
“Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya satu personel pemelihara perdamaian Indonesia dan tiga personel lainnya terluka saat bertugas di United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), setelah serangan artileri tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr,” ujarnya.
Penekanan pada "tidak langsung" itu penting. Artinya, posisi mereka bukan sasaran tembak utama, namun tetap terkena imbasnya.
Tuntutan untuk Kejelasan
Lebih dari sekadar pernyataan duka, Indonesia juga mengambil sikap tegas. Pemerintah mendesak agar diadakan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan. Tujuannya jelas: mengungkap penyebab pasti insiden dan memastikan keadilan.
“Indonesia mengecam keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan,” tegas Yvonne Mewengkang menutup pernyataannya.
Gugurnya Praka Farizal Rhomadhon ini tentu menjadi pengingat pahit tentang risiko tinggi yang dihadapi para penjaga perdamaian. Di tengah medan konflik yang tak pernah benar-benar padam, mereka bertugas dengan nyawa sebagai taruhannya.
Artikel Terkait
Analis: IHSG Berpotensi Koreksi Lebih Dalam Meski Ada Pembelian
Anggota DPR Desak PBB Investigasi Serangan Israel yang Tewaskan Prajurit TNI di Lebanon
KPK Tetapkan Dua Tersangka Baru dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
Mendagri Tito Karnavian: Pengumuman Resmi WFH ASN Dijadwalkan Besok