Dengan sikap itu, dia tampak memohon dengan sungguh-sungguh. Pendekatannya jelas: persuasif, humanis. Bukan ancaman, tapi permintaan dari hati ke hati agar semua pihak menahan diri.
Dan upaya itu perlahan membuahkan hasil. Ketegangan yang semula memuncak berangsur mereda. Massa mulai menahan diri, mundur sedikit demi sedikit. Akhirnya, situasi kritis itu berhasil dikendalikan tanpa ada bentrokan fisik sama sekali. Sebuah pencapaian yang tidak mudah di tengah panasnya situasi.
Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, menegaskan bahwa pendekatan seperti inilah yang selalu diutamakan.
“Dalam situasi yang berpotensi konflik, anggota kami di lapangan selalu mengedepankan pendekatan dialog dan kemanusiaan. Tujuannya adalah mencegah terjadinya kekerasan dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Henry juga berpesan agar masyarakat tidak gampang terprovokasi oleh isu-isu yang bisa memecah belah. Ajakan untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian di Manggarai pun disampaikan. Bagaimanapun, perdamaian adalah tujuan bersama yang harus dijaga, meski kadang harus diperjuangkan dengan cara yang tak biasa seperti berlutut di atas aspal.
Artikel Terkait
Mabes TNI Mutasi 35 Perwira, Brigjen Tagor Rio Pasaribu Jadi Aster Kaskogabwilhan II
Jadwal Imsak dan Salat di Surabaya 17 Maret 2026 Pukul 04.09 WIB
PSM Makassar Terancam di Papan Tengah Klasemen Liga 1 2025/2026
Bayern Krisis Kiper, Remaja 16 Tahun Bersiap Jaga Gawang Lawan Atalanta