Mojtaba Khamenei Ditunjuk Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Trump Tolak Suksesi

- Senin, 09 Maret 2026 | 09:00 WIB
Mojtaba Khamenei Ditunjuk Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Trump Tolak Suksesi

Iran punya pemimpin baru. Setelah Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia dalam sebuah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, posisi pemimpin tertinggi kini dipegang oleh putranya sendiri, Mojtaba Khamenei.

Pengumuman resmi itu disampaikan Majelis Ahli pada Minggu (8/3/2026) waktu setempat. Lembaga ulama inilah yang punya wewenang penuh untuk memilih sosok pemimpin di Republik Islam Iran. Cukup mengejutkan, keputusan besar ini diambil hanya sembilan hari setelah serangan udara yang merenggut nyawa ayahnya dan memicu ketegangan hebat di Timur Tengah.

Menurut pernyataan Majelis Ahli, Mojtaba terpilih lewat pemungutan suara internal para ulama.

“Berdasarkan pernyataan resmi dari Majelis Ahli, Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun dipilih berdasarkan hasil pemungutan suara yang menentukan. Ia diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dalam sistem suci Republik Islam Iran, meneruskan tongkat estafet kepemimpinan ayah dan pendahulunya,” tulis Al Arabiya, Senin (9/3/2026).

Dengan ini, dia resmi menjadi pemimpin tertinggi ketiga sejak revolusi 1979. Selama bertahun-tahun, Mojtaba memang dikenal punya pengaruh kuat di lingkaran dalam kekuasaan ayahnya. Bahkan, banyak yang menyebut dia punya hubungan yang sangat dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), institusi militer paling berpengaruh di Iran.

Namun begitu, langkah politik Teheran ini langsung mendapat sorotan tajam dari Washington.

Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan penolakannya atas naiknya Mojtaba. Dalam sebuah wawancara, Trump mengaku ini bukanlah hasil yang dia harapkan.

“Putra Khamenei tidak bisa saya terima. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” tegasnya.

Bagi Trump, yang jadi masalah utama bukanlah bentuk pemerintahan Iran. Yang lebih penting adalah sikap politik pemimpinnya terhadap Amerika Serikat dan sekutunya, terutama Israel.

Menurutnya, pemimpin Iran seharusnya bisa menciptakan stabilitas dan punya hubungan yang lebih baik dengan negara-negara di kawasan.

“Saya katakan harus ada pemimpin yang adil dan benar. Melakukan pekerjaan yang hebat. Memperlakukan Amerika Serikat dan Israel dengan baik, serta memperlakukan negara-negara lain di Timur Tengah dengan baik, mereka semua adalah mitra kami,” pungkas Trump dalam kesempatan lain.

Jadi, meski proses suksesi di Iran sudah berjalan cepat, gelombang reaksi internasional tampaknya baru saja dimulai.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar