Suara MUI Soal Peran Indonesia di Kancah Global
Ketegangan geopolitik dunia belakangan ini memang makin terasa. Di tengah situasi yang memanas, Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara. Mereka mendukung penuh pemerintah RI untuk terus aktif dalam percaturan diplomasi internasional. Tujuannya jelas: mendorong terciptanya perdamaian dunia yang adil.
Pernyataan tegas ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum MUI, KH. Anwar Iskandar, Minggu lalu. Ia menekankan pentingnya peran yang aktif dan konstruktif dari Indonesia.
“MUI mendorong Pemerintah Republik Indonesia untuk terus memainkan peran aktif dan konstruktif dalam diplomasi internasional guna mendorong terciptanya perdamaian yang berkeadilan,” ujar Kiai Anwar.
Pernyataannya itu bagian dari tausiyah MUI yang dirilis beberapa hari sebelumnya, awal Maret 2026. Isinya seputar kedaulatan negara dan upaya mewujudkan perdamaian dunia.
Kiai Anwar juga tak menyembunyikan keprihatinannya. Ia menyoroti dampak konflik yang memilukan.
“MUI menyampaikan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban masyarakat sipil serta kerusakan fasilitas publik sebagai dampak meningkatnya eskalasi konflik,” katanya.
Bagi MUI, prinsip menghormati kedaulatan negara lain itu fundamental. Itu pondasi utama untuk stabilitas dan kedamaian global. Mereka menghargai komitmen negara-negara yang menjunjung tinggi prinsip ini.
Namun begitu, ada batasan yang tak boleh dilanggar. Menurut pandangan MUI, konflik antarnegara harus tetap berada dalam koridor kemanusiaan dan moral. Ajaran Islam pun melarang keras tindakan yang melampaui batas, atau al-i‘tidā’.
“MUI mengingatkan bahwa hak membela diri tidak boleh melampaui batas-batas kemanusiaan dan moralitas. Dalam ajaran Islam, tindakan melampaui batas dilarang keras,” tegas Kiai Anwar.
Di sisi lain, solidaritas antarnegara Muslim dinilai perlu diperkuat. Caranya? Dengan komunikasi yang baik dan kerja sama erat. Mereka juga mengingatkan agar semua pihak waspada terhadap provokasi dan upaya adu domba yang justru bisa memperkeruh suasana.
MUI punya pesan khusus untuk PBB. Lembaga dunia itu didesak untuk bersikap lebih tegas. Tegakkan keadilan internasional, dan ambil langkah proporsional terhadap pelanggaran kedaulatan serta kesepakatan internasional.
Harapan terakhirnya sederhana namun berat: semua pihak perlu menahan diri. Dialog dan diplomasi harus jadi jalan utama menyelesaikan masalah. Hanya dengan begitu stabilitas global dan kemaslahatan umat manusia bisa benar-benar terjaga.
Artikel Terkait
Polisi Kerahkan 1.200 Personel Amankan Peringatan May Day di Makassar
Mahfud MD: Kritik Inflasi Pengamat Tak Tepat, Justru Inflasi Pejabat yang Perlu Dibahas
BMKG: Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Makassar Sepanjang Hari, Warga Diimbau Waspada
Unhas Kukuhkan Kembali Prof. Jamaluddin Jompa sebagai Rektor Periode 2026-2030