MURIANETWORK.COM - Sebuah sumur berusia lebih dari enam setengah abad di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, masih tegak sebagai penanda sejarah dan budaya. Sumur Laccokkong, peninggalan Kerajaan Bone dari abad ke-15, tidak hanya merupakan struktur fisik, tetapi juga situs sakral yang telah menyaksikan dan menjadi bagian dari ritual penting kerajaan selama ratusan tahun.
Kisah Pelarian yang Melahirkan Sebuah Nama
Asal-usul Sumur Laccokkong terjalin dengan kisah pelarian La Saliyu Korampelua, yang kelak dinobatkan sebagai Raja Bone ketiga. Dalam pelariannya, sang pangeran mengalami kehausan yang amat sangat. Seorang pengawal setia kemudian memberinya air dari sebuah mata air yang ditemukan. Setelah meminumnya, kondisi La Saliyu pulih dengan cepat. Ia langsung bangkit dan mendongakkan kepalanya gerakan yang dalam bahasa Bugis disebut "cokkong". Peristiwa inilah yang kemudian melekat menjadi nama sumur tersebut: Bubung (Sumur) Laccokkong.
Peran Sakral dalam Tradisi Kerajaan
Lebih dari sekadar sumber air, Laccokkong menempati posisi sentral dalam kehidupan adat istiadat Kerajaan Bone. Sumur ini merupakan salah satu dari tiga sumur utama kerajaan yang airnya disucikan untuk berbagai ritual penting. Praktik ini bertahan dalam ingatan kolektif masyarakat hingga hari ini.
Sejarawan Bone, Andi Yushan, menjelaskan betapa krusial peran sumur ini. "Air dari sumur ini secara tradisional digunakan dalam prosesi Mallekke Toja (pengambilan air suci) untuk pelantikan raja, pernikahan pangeran, dan penyucian pusaka. Termasuk pengambilan air suci saat peringatan Hari Jadi Bone," ungkapnya pada suatu kesempatan.
Dari ketiga sumur kerajaan tersebut, Laccokkong adalah yang paling dikenal dan satu-satunya yang masih dapat disaksikan keasliannya. Andi Yushan menegaskan kembali, "Airnya disucikan dan digunakan untuk upacara adat krusial seperti kelahiran putra mahkota dan pelantikan raja-raja Bone."
Warisan yang Terjaga untuk Masa Depan
Kini, situs bersejarah ini telah mendapatkan perlindungan resmi. Sumur Laccokkong menjadi bagian integral dari kawasan cagar budaya dan museum yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan setempat. Keberadaannya yang terpelihara dengan baik bukan sekadar tentang melestarikan sebuah bangunan tua, melainkan tentang menjaga napas sejarah dan identitas budaya masyarakat Bugis-Bone. Setiap batu yang menyusunnya adalah pengingat akan warisan nilai, ketahanan, dan tradisi yang telah diturunkan lintas generasi, menjadikannya ikon budaya yang hidup dan terus dihormati.
Artikel Terkait
Mantan Bawahan Kapolres Bima Kota Simpan Koper Berisi Narkoba Atas Permintaan Didik
Kapal Penumpang Terpaksa Putar Balik Diterjang Cuaca Ekstrem di Perairan Sulawesi
Rosatom Tawarkan Solusi Nuklir untuk Dukung Visi 2030 Arab Saudi di Pameran Riyadh
Kementerian Pertanian Gandeng Pramuka Cetak Petani Muda dan Galakkan Tanam 250 Juta Pohon