Sejarawan Bone, Andi Yushan, menjelaskan betapa krusial peran sumur ini. "Air dari sumur ini secara tradisional digunakan dalam prosesi Mallekke Toja (pengambilan air suci) untuk pelantikan raja, pernikahan pangeran, dan penyucian pusaka. Termasuk pengambilan air suci saat peringatan Hari Jadi Bone," ungkapnya pada suatu kesempatan.
Dari ketiga sumur kerajaan tersebut, Laccokkong adalah yang paling dikenal dan satu-satunya yang masih dapat disaksikan keasliannya. Andi Yushan menegaskan kembali, "Airnya disucikan dan digunakan untuk upacara adat krusial seperti kelahiran putra mahkota dan pelantikan raja-raja Bone."
Warisan yang Terjaga untuk Masa Depan
Kini, situs bersejarah ini telah mendapatkan perlindungan resmi. Sumur Laccokkong menjadi bagian integral dari kawasan cagar budaya dan museum yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan setempat. Keberadaannya yang terpelihara dengan baik bukan sekadar tentang melestarikan sebuah bangunan tua, melainkan tentang menjaga napas sejarah dan identitas budaya masyarakat Bugis-Bone. Setiap batu yang menyusunnya adalah pengingat akan warisan nilai, ketahanan, dan tradisi yang telah diturunkan lintas generasi, menjadikannya ikon budaya yang hidup dan terus dihormati.
Artikel Terkait
Polda Jateng Bongkar Investasi Walet Bodong, Korban Rugi Rp78 Miliar
Tiga Ibu-ibu Boncengan Tiga Tanpa Helm Tabrakan di Bangkalan, Diselesaikan Secara Kekeluargaan
Warga Amuk Pencuri Perkutut di Pasuruan, Pelaku Diduga ODGJ
Kementerian Pertanian Klaim Siap Hadapi El Nino Ekstrem, Stok Beras Aman