MURIANETWORK.COM - Pemulihan akses jalan raya di Provinsi Aceh menunjukkan perkembangan signifikan pasca bencana banjir dan tanah longsor yang melumpuhkan konektivitas antar wilayah pada November 2025. Pemerintah fokus memprioritaskan pembukaan jalur transportasi untuk memulihkan mobilitas warga dan kelancaran distribusi logistik bantuan serta kebutuhan pokok. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah ruas jalan strategis kini telah dapat dilalui, meski pekerjaan perbaikan di beberapa titik masih berlangsung.
Pemulihan Ruas Jalan Utama Pantai Timur
Kemajuan paling vital terlihat di jalur utama yang menghubungkan Banda Aceh dengan wilayah timur. Ruas jalan dari Banda Aceh hingga Meureudu, misalnya, telah beroperasi penuh untuk semua kendaraan sejak Kamis (12/2/2026). Perbaikan berlanjut ke arah timur, di mana ruas Meureudu menuju perbatasan Pidie Jaya dan Bireuen juga sudah dapat dilintasi. Hal ini berkat penyelesaian penimbunan oprit di Jembatan Krueng Meureudu yang sempat runtuh.
“Ruas Meureudu–Batas Pidie Jaya/Bireuen juga sudah dapat dilalui setelah penimbunan oprit jembatan yang runtuh di Jembatan Krueng Meureudu rampung sejak 12 Desember 2025,” jelas pihak yang terlibat dalam proses perbaikan.
Lebih jauh ke timur, konektivitas dari Kota Bireuen hingga perbatasan Aceh Utara telah pulih sejak akhir Desember. Sementara itu, jalur dari Lhokseumawe ke Langsa telah dibersihkan dari material sedimen dan bisa dilalui, meski perbaikan struktural pada Jembatan Ulee Langa masih terus dilakukan. Pembersihan serupa berhasil memulihkan fungsi ruas Kota Langsa menuju Kuala Simpang, dan seterusnya hingga ke perbatasan Sumatera Utara.
Perbaikan di Wilayah Tengah dan Dataran Tinggi
Di kawasan tengah Aceh yang topografinya lebih menantang, upaya pemulihan juga menunjukkan hasil. Ruas jalan di perbatasan Aceh Tengah dan Nagan Raya, yang melintasi Lhok Seumot hingga Jeuram, kini sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat. Begitu pula dengan ruas Genting Gerbang menuju Celala.
“Ruas Genting Gerbang–Celala–Batas Aceh Tengah/Nagan Raya beroperasi sejak 24 Desember 2025,” ungkapnya.
Pemulihan di wilayah Gayo Lues dan Aceh Tenggara sempat mendapat ujian dengan kejadian longsor susulan pada awal Januari 2026. Namun, respons cepat tim di lapangan berhasil membuka kembali akses yang terputus. Koneksi dari Blangkejeren ke Kutacane, contohnya, kembali berfungsi setelah dilakukan penanganan longsor dan pemasangan jembatan Bailey pengganti sementara di Jembatan Lawe Mengkudu I.
Penanganan Jembatan dan Jalur Alternatif
Salah satu tantangan terberat dalam pemulihan ini adalah kerusakan pada sejumlah jembatan. Di kawasan Bener Meriah dan Aceh Tengah, dari tujuh jembatan yang awalnya putus total, lima di antaranya telah berhasil dioperasikan kembali. Untuk mengatasi putusnya Jembatan Titi Merah, pihak berwenang membuka jalur alternatif melalui Angkup, sehingga ruas Geumpang hingga Simpang Uning tetap dapat dilalui.
Progres serupa dilaporkan dari berbagai titik. Ruas Simpang Uning menuju Gayo Lues telah berfungsi sejak akhir tahun lalu. Sementara di Aceh Tenggara, pekerjaan penggantian Jembatan Pante Dona masih dalam tahap pengerjaan.
Kemajuan bertahap ini membawa angin segar bagi masyarakat. Wilayah-wilayah yang sebelumnya terisolasi kini mulai kembali terhubung, mendukung distribusi bantuan yang lebih merata dan memungkinkan aktivitas sosial-ekonomi warga berangsur pulih. Meski demikian, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat beberapa ruas mungkin masih dalam kondisi rentan.
Artikel Terkait
Anggota DPR Imbau Beri Kesempatan Adies Kadir Buktikan Kinerja di MK
Ketua Komisi III DPR Desak Penanganan Adil Kasus Pembunuhan Ayah di Pariaman
Kemen HAM Soroti Gangguan Cuci Darah Pasien Gagal Ginjal Akibat Nonaktif BPJS
Banjir di Kendal Mulai Surut, 1.300 Rumah Terdampak