MURIANETWORK.COM - Sebuah film yang mengangkat budaya lokal Sulawesi Selatan, "Uang Passolo", mendapat apresiasi khusus melalui kegiatan nonton bareng yang digelar serentak di Jakarta dan Makassar. Acara yang diinisiasi oleh Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) bersama IKA Unhas dan Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) ini berhasil menyedot ratusan penonton, sekaligus menggarisbawahi animo publik terhadap karya sinema yang kental dengan identitas daerah.
Nobar Serentak di Dua Kota
Gelaran nonton bareng dimulai di Jakarta pada Minggu sore, 8 Februari 2026. Sekitar 300 orang memadati studio di Epicentrum XXI, menandai dimulainya apresiasi terhadap film tersebut di ibu kota. Suasana berbeda namun tak kalah semarak tercipta sehari kemudian di Makassar. Di XXI Panakkukang, meski kuota penonton lebih terbatas sekitar 150 orang, keakraban justru lebih terasa. Studio didominasi oleh ibu-ibu yang tampak antusias, dengan camilan khas bioskop di tangan, siap menyaksikan cerita yang dekat dengan keseharian mereka.
Resonansi Budaya yang Langsung Terasa
Suasana hangat dan penuh gelak tawa langsung menyelimuti ruangan seiring film berjalan. Reaksi penonton terutama mengemuka saat dialog-dialog dalam bahasa lokal mengalir tanpa terjemahan, menghadirkan pengalaman menonton yang autentik dan langsung menyentuh rasa.
"Film ini mampu membawa penonton merasa 'budayata sekali itu'," tutur salah seorang panitia, menggambarkan reaksi khalayak. Ungkapan kekaguman lain juga terdengar, seperti komentar spontan, "bah cocokki ini."
Respons positif ini menunjukkan bahwa film berhasil menjembatani cerita lokal dengan empati penonton, menegaskan bahwa nilai-nilai budaya yang ditampilkan memiliki daya pikat universal.
Melampaui Ekspektasi
Apresiasi melalui nobar ini sejalan dengan tren positif yang sedang diraih "Uang Passolo" di tingkat nasional. Film yang sepenuhnya menggunakan bahasa lokal Sulsel tersebut tercatat telah ditonton oleh lebih dari 200 ribu penonton di bioskop seluruh Indonesia. Pencapaian ini tidak hanya menjadi kabar gembira bagi para pembuat film daerah, tetapi juga sinyal kuat bahwa pasar audiens nasional terbuka dan reseptif terhadap keberagaman cerita dari berbagai penjuru Nusantara. Kegiatan komunitas seperti ini memperkuat ikatan budaya sekaligus mendukung lanskap perfilman Indonesia yang semakin kaya.
Artikel Terkait
KSAD: TNI AD Siapkan Pasukan Zeni dan Kesehatan untuk Misi Gaza
Harga Emas UBS di Pegadaian Tembus Rp3 Juta per Gram, Galeri24 Ikut Menguat
Presiden Prabowo Tekankan Sinergi TNI-Polri dan Keadilan Hukum dalam Arahan ke Rapim Polri
Anggota DPR Pertanyakan Kesenjangan Data Penerima Bantuan Iuran BPJS Kesehatan