Presiden kemudian menyentuh persoalan yang sering menggerus persatuan, seperti saling curiga dan dendam masa lalu. Dengan nada tegas, ia menyerukan penghentian segala bentuk perpecahan yang dapat melemahkan bangsa.
Prabowo juga menyikapi dinamika politik dengan bijak. Ia mengakui bahwa perbedaan pendapat dan persaingan adalah denyut nadi kehidupan demokrasi. Namun, ia mengingatkan bahwa semua itu harus berakhir ketika kepentingan bangsa yang lebih besar dipertaruhkan. Setelah periode kontestasi usai, kata dia, fokus harus kembali kepada kerja sama.
Apresiasi atas Peran Ulama Indonesia
Pada bagian lain sambutannya, Prabowo menyampaikan penghargaan mendalam kepada para ulama di tanah air. Ia menilai para pemimpin agama Indonesia telah berhasil menampilkan wajah Islam yang moderat, damai, dan penuh toleransi. Capaian ini, menurutnya, telah mengangkat martabat Indonesia di mata dunia sebagai contoh nyata negara yang mampu menjaga harmoni dalam keberagaman.
Mengakhiri pidatonya, Presiden menyampaikan optimisme yang tinggi. Karakter umat Islam Indonesia yang menjunjung tinggi keadilan dan perdamaian, dipandangnya bukan hanya sebagai identitas, melainkan sebagai kekuatan strategis bangsa untuk berkontribusi pada peradaban global.
Artikel Terkait
PSSI Umumkan Susunan Pelatih Baru Timnas Indonesia, John Herdman Jadi Pelatih Kepala
Pantai Kuri Caddi di Maros: Pesona Tersembunyi yang Masih Asri dan Sunyi
BPP KKSS Salurkan Bantuan Sembako ke Panti Asuhan dalam Rangka PSBM ke-XXVI
Penumpang Meninggal Dunia di Kapal Feri Kolaka-Bajoe