Di Kabupaten Ngada, NTT, sebuah tragedi menyayat hati terjadi. Seorang siswa SD berusia 10 tahun, YBS, meninggal dunia karena bunuh diri. Kisah pilu di baliknya ternyata berkait dengan bantuan yang tak kunjung datang. Keluarganya, yang sebenarnya masuk kategori miskin, sama sekali tidak pernah menerima Bantuan Sosial (Bansos).
Lantas, apa yang menghalangi? Masalahnya berakar pada data kependudukan yang tak kunjung jelas. Keluarga korban adalah penduduk pindahan dari Kabupaten Nagekeo. Sayangnya, urusan administrasi mereka belum juga tuntas di tempat tinggal yang baru.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menjelaskan persoalan ini dengan gamblang.
"Data kependudukannya tidak ditopang. Korban pindah dari Nagekeo ke Jerebuu, tapi administrasinya belum diamankan," ujarnya kepada wartawan, Rabu (4/2).
Ia menambahkan, "Ini hanya persoalan kertas."
Namun begitu, dampak dari 'persoalan kertas' ini sama sekali tidak remeh. Akibat ketidakjelasan data itu, keluarga YBS terlewat dari daftar penerima bansos. Padahal, mereka jelas-jelas membutuhkan.
Gubernur Melki pun mengimbau semua pihak, mulai dari pemda hingga perangkat desa, untuk lebih proaktif. Urusan administrasi warga miskin harus dipastikan beres, jangan sampai ada lagi yang terabaikan.
Artikel Terkait
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai
Kapal Induk dan Ancaman Lama: AS Kembali Mainkan Skrip Usang di Teluk Persia