Komunitas itu sendiri sebenarnya sudah masuk dalam radar Densus sejak akhir tahun lalu. Mereka khawatir, konten-konten yang beredar bisa mempengaruhi anak muda. True Crime Community, berdasarkan informasi dari Humas Polri, tumbuh liar tanpa struktur resmi. Mereka memanfaatkan ruang digital yang sifatnya lintas batas dan kerap menyajikan hal-hal sensasional.
Intinya, ini adalah kumpulan penggemar kisah kriminal nyata. Mulai dari kasus pembunuhan berdarah dingin, penipuan rumit, sampai misteri lama yang belum terpecahkan. Mereka berkumpul di mana-mana: YouTube, TikTok, Reddit, atau platform podcast.
Di sisi lain, BNPT punya data yang mengkhawatirkan. Komunitas semacam ini berpotensi mendorong remaja untuk bertindak ekstrem. Ingat kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu? Mirip. Motifnya seringkali sekadar ingin dianggap hebat, meniru apa yang mereka lihat.
Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti yang cukup mengerikan. Ada lima buah gas portable yang ditempeli petasan, paku, dan pisau. Lalu, enam botol berisi bahan bakar lengkap dengan sumbu kain bahan baku molotov. Satu bilah pisau juga turut diamankan.
Kasus ini jadi pengingat keras. Dunia digital punya sisi gelap yang bisa merasuki siapa saja, termasuk anak-anak yang masih mencari jati diri.
Artikel Terkait
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai