Gus Aam Wahib Wahab: Board of Peace Tanpa Palestina Hanyalah Ilusi

- Rabu, 04 Februari 2026 | 12:00 WIB
Gus Aam Wahib Wahab: Board of Peace Tanpa Palestina Hanyalah Ilusi

Gus Aam Wahib Wahab Tolak Board of Peace: Perdamaian Tanpa Kemerdekaan Palestina Hanyalah Ilusi

JAKARTA Suaranya tegas dan penuh keprihatinan. Gus Aam Wahib Wahab, cucu dari KH Wahab Chasbullah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, secara terbuka menolak dan mengecam dukungan Ketum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf terhadap langkah Indonesia masuk ke dalam Board of Peace. Bagi Gus Aam, inisiatif yang didukung Presiden Prabowo Subianto ini sama sekali bukan jalan tepat untuk memperjuangkan Palestina.

Penolakan ini bukan hanya datang darinya sendiri.

"Saya, bersama 127 orang yang mencintai dan peduli terhadap NU," ujar Gus Aam kepada media pada Rabu, 4 Februari 2026.

Dia merinci, dukungan penolakan itu datang dari berbagai elemen. Mulai dari Pengurus PWNU DIY, Fatayat DIY, hingga Muslimat Jatim. Ada juga suara dari pengurus Syuriah PCNU Sleman, Tanfidziyah, bahkan PWNU Papua. Tak ketinggalan, akademisi, peneliti, dosen, profesional, pengusaha, mahasiswa, dan warga Nahdliyin dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga luar Pulau Jawa ikut menyatakan sikap yang sama.

"Kami menyatakan keprihatinan mendalam, sekaligus penolakan tegas, serta mengecam dukungan Ketum PBNU," tegasnya. Menurut mereka, dukungan Gus Yahya itu keliru.

Baginya, fakta di lapangan sudah jelas. "Sudah menjadi kenyataan dan terbukti bahwa perdamaian yang dibangun tanpa keadilan hanyalah kelanjutan dari imperialisme dan kolonialisme. Semuanya dibalut dengan bahasa-bahasa manipulatif," sambung Gus Aam dengan nada getir.

Dia menggambarkan realitas yang pahit. Sementara pembicaraan perdamaian berlangsung, di tanah Palestina keadaan justru makin suram.

"Sementara darah tetap dan terus mengalir, tanah terus dirampas. Kemerdekaan Palestina semakin menjadi ilusi belaka," tambahnya.

Menurut analisis Gus Aam, Board of Peace sejak awal lahir sudah bermasalah. Inisiatif ini lebih menyerupai kepanjangan tangan kepentingan Amerika Serikat, ketimbang sebuah upaya perdamaian yang sah dan berkeadilan. Hal ini terlihat nyata dari cara pembentukannya.

Bagaimana mungkin sebuah dewan perdamaian dirancang secara sepihak, tanpa melibatkan satupun perwakilan dari Palestina? Padahal, merekalah pihak yang paling terdampak dan seharusnya ada di meja perundingan.

"Perdamaian tanpa Kemerdekaan Palestina hanyalah sebuah gema. Gema dari kepentingan geopolitik dan ekonomi AS," katanya dengan lugas.

Di sinilah, menurutnya, kepemimpinan moral NU sedang diuji. Seorang pemimpin ormas ulama, kyai, dan pejuang tidak seharusnya dan tidak bisa dibenarkan menyederhanakan persoalan pelik hanya dengan seruan untuk terlibat. Apalagi tanpa menimbang risiko etik dan politiknya secara matang.

Para muassis dan masyayikh NU dulu mewariskan kehati-hatian yang besar terhadap kekuasaan yang dzalim. Mereka mengingatkan, agama akan kehilangan ruhnya ketika dijadikan legitimasi untuk penindasan, penjajahan, dan tatanan yang menindas.

"PBNU, sesuai misi perjuangan NU yang bertumpu pada konsep Ashabul Haq Wal 'Adl, seharusnya berdiri sebagai penjaga nurani umat," jelas Gus Aam. "Mereka harus menjadi pembimbing moral bagi jutaan warganya, menunjukkan mana yang haq dan mana yang bathil."

Sejarah justru membuktikan hal sebaliknya. NU akan menjadi lebih kuat justru ketika mampu menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan. Kekuatannya terletak pada istiqomah menyuarakan kebenaran dan keadilan, meski itu tak populer.

Dalam konteks inilah, PBNU dituntut untuk kembali ke khittah-nya. Kembali memposisikan diri sebagai pembimbing moral, kembali kepada prinsip Ashabul Haq Wal 'Adl yang bisa menjernihkan mana haq dan mana bathil. Bukan malah mengaburkannya dengan bahasa-bahasa yang sarat kepentingan.

"Ketegasan moral ini merupakan bentuk kesetiaan pada prinsip yang diwariskan para ulama," tandasnya.

Pada akhirnya, PBNU seharusnya menjadi ruang kejernihan dan keberpihakan. Tempat di mana kebenaran moral lebih utama daripada akses politik. Tempat di mana kebenaran tidak boleh ditunda demi kenyamanan semu. Dan tempat di mana keadilan sama sekali tidak bisa dinegosiasikan, sekalipun untuk mendapatkan posisi atau jabatan tertentu.

Menurut Gus Aam, di dunia yang semakin kabur orientasinya ini, tuntutan untuk PBNU sangatlah besar. Mereka dituntut tidak hanya bicara dengan bahasa yang diterima kekuasaan, tapi lebih dari itu: dengan bahasa yang benar di hadapan sejarah.

Dan yang paling utama, bahasa yang benar di hadapan Allah SWT.

Di sanalah amanah keulamaan diuji yang sesungguhnya. Yakni dengan membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan membela yang tertindas melawan segala bentuk kedzaliman. Meski untuk itu, mereka harus berdiri berseberangan dengan arus besar dunia.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar