Bagi sebagian pengamat, tampaknya tidak. Dunia politik memang penuh kejutan dan lika-liku. Tapi lompatan dari musuh bebuyutan menjadi juru bicara resmi adalah sebuah drama yang sulit diabaikan.
Era media sosial membuat semua rekaman itu abadi. Jejak digital adalah saksi bisu yang paling jujur. Netizen pun tak tinggal diam. Di Twitter, misalnya, banyak yang menyoroti fenomena ini dengan sindiran pedas. Salah satu cuitan menyebut soal "lidah yang tahan gesek dan geser".
Cuitan lain bahkan berkomentar, membahas hal serupa bisa "7 hari 7 malam" tak akan selesai, karena yang bersangkutan dianggap "rela menjilat ludahnya sendiri".
Inilah ironi zaman sekarang. Apa yang dulu diucapkan dengan penuh keyakinan, kini berbalik menghantui. Bukan cuma Dedek, beberapa nama lain dari partai yang sama juga mengalami transformasi politik serupa. Mereka adalah bukti nyata bahwa di panggung politik, tidak ada permusuhan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang terus bergerak. Lantas, mana yang lebih memalukan: jejak digitalnya, atau kenyataan bahwa semua orang bisa melihatnya dengan jelas?
Artikel Terkait
Dortmund Bangkit dari Ketertinggalan Dua Gol untuk Kalahkan Hamburg
AC Milan Tundukkan Torino 3-2 dalam Laga Sengit di San Siro
Tiga Anak di Jombang Terluka Parah Akibat Petasan Rakitan, Satu Harus Diamputasi
Derby Rhein Berakhir 3-3, Köln Bertahan dengan 10 Pemain