✍🏻 Ustadz Anshari Taslim
Indonesia dan BoP: Perlukah Ikut Bergabung?
Sepertinya, tidak perlu. Masuknya tak menggenapkan. Keluarnya pun tak akan mengganjilkan.
Nah, soal Board of Peace ini, yang sebenarnya punya peluang untuk diterima masuk adalah negara-negara yang punya daya tekan. Yang bisa mengancam kepentingan AS, tentu untuk membela Palestina. Kalau tidak punya bargaining power sama sekali? Ya, jadinya cuma legitimasi tambahan saja bagi Amerika yang jelas-jelas bekerja untuk Tel Aviv.
Di sisi lain, ada sikap lain yang jauh lebih tegas dan sejalan dengan hukum internasional. Ambil contoh Kolumbia.
Presiden Gustavo Petro, dalam sidang PBB belum lama ini, menyatakan dengan gamblang. Israel harus ditetapkan sebagai penjahat perang. Lalu, pasukan multinasional perlu dikerahkan ke Gaza, persis seperti yang dulu terjadi di Bosnia.
Itu pernyataannya.
Pikirkan ini: Kalau Kolumbia yang beraliran komunis saja berani mengambil sikap sedemikian berani, seharusnya negara-negara Muslim lebih mampu lagi, bukan? Ini soal keberpihakan yang nyata, bukan sekadar retorika di forum yang hasilnya bisa ditebak.
Pada akhirnya, semuanya bermuara pada satu hal. Kalau kita tak sanggup menghilangkan asinnya air laut, setidaknya jangan menambahkan garam ke dalamnya. Pesannya sederhana, tapi dalam maknanya.
(")
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Komplotan Pembobol Rumah Lintas Provinsi, Incar Rumah Kosong dengan Ciri Lampu Teras Menyala
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali