Indonesia dan Board of Peace: Sekadar Legitimasi atau Langkah Nyata?

- Senin, 02 Februari 2026 | 17:00 WIB
Indonesia dan Board of Peace: Sekadar Legitimasi atau Langkah Nyata?

✍🏻 Ustadz Anshari Taslim

Indonesia dan BoP: Perlukah Ikut Bergabung?

Sepertinya, tidak perlu. Masuknya tak menggenapkan. Keluarnya pun tak akan mengganjilkan.

Nah, soal Board of Peace ini, yang sebenarnya punya peluang untuk diterima masuk adalah negara-negara yang punya daya tekan. Yang bisa mengancam kepentingan AS, tentu untuk membela Palestina. Kalau tidak punya bargaining power sama sekali? Ya, jadinya cuma legitimasi tambahan saja bagi Amerika yang jelas-jelas bekerja untuk Tel Aviv.

Di sisi lain, ada sikap lain yang jauh lebih tegas dan sejalan dengan hukum internasional. Ambil contoh Kolumbia.

Presiden Gustavo Petro, dalam sidang PBB belum lama ini, menyatakan dengan gamblang. Israel harus ditetapkan sebagai penjahat perang. Lalu, pasukan multinasional perlu dikerahkan ke Gaza, persis seperti yang dulu terjadi di Bosnia.

Itu pernyataannya.

Pikirkan ini: Kalau Kolumbia yang beraliran komunis saja berani mengambil sikap sedemikian berani, seharusnya negara-negara Muslim lebih mampu lagi, bukan? Ini soal keberpihakan yang nyata, bukan sekadar retorika di forum yang hasilnya bisa ditebak.

Pada akhirnya, semuanya bermuara pada satu hal. Kalau kita tak sanggup menghilangkan asinnya air laut, setidaknya jangan menambahkan garam ke dalamnya. Pesannya sederhana, tapi dalam maknanya.

(")

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar