Energi, Konsistensi, dan Kesehatan Mental
Oleh Aendra Medita
Kita sudah bicara soal mengatur waktu, mengusir distraksi, dan menetapkan prioritas. Tapi tunggu dulu. Semua rencana yang rapi itu mau dijalankan pakai apa, kalau bukan tenaga? Pertanyaan ini sering banget terlewat.
Lihat saja. Banyak anak muda punya jadwal super ketat, target menara gading, dan niat sekuat baja. Tapi di tengah jalan, semuanya ambruk. Penyebabnya sederhana: mereka kehabisan bensin. Habis energi.
Waktu Itu Punya Pasangan
Pembahasan soal manajemen waktu kadang terkesan mandiri. Seolah-olah waktu bisa berdiri sendiri. Padahal nggak begitu. Waktu selalu berjalan berdua dengan energi. Coba lihat, dua orang bisa punya jadwal kerja persis sama. Hasilnya? Beda jauh. Yang satu makin produktif, yang lainnya malah kelelahan dan frustasi.
Di mana bedanya? Bukan di jumlah jamnya, tapi di kondisi batin dan fisik masing-masing orang.
Tony Schwartz pernah bilang begini:
Intinya, waktu kita sama, 24 jam. Tapi energi? Itu bisa diatur dan dikelola.
Terjebak dalam Budaya 'Grind'
Anak-anak muda sekarang tumbuh dalam budaya yang memuja produktivitas. Kerja keras diagung-agungkan. Sementara itu, istirahat malah dicurigai, dianggap sebagai kemalasan.
Akibatnya jelas. Banyak yang merasa bersalah saat mau berhenti sejenak, meski tubuh dan pikiran sudah berteriak minta tolong. Parahnya, kelelahan yang terus diabaikan itu nggak bikin kita jadi lebih kuat. Justru sebaliknya, kita jadi lebih rapuh dan gampang patah.
Pada akhirnya, konsistensi yang sejati itu nggak dibangun dari paksaan. Ia lahir dari ritme yang manusiawi, yang menghargai batas.
Konsistensi, Bukan Intensitas
Pola ekstrem itu berbahaya. Banyak yang terjebak: hari ini semangatnya membara, kerja 12 jam nonstop. Besoknya? Drop total, nggak bisa ngapa-ngapain.
Padahal, kemajuan yang langgeng jarang datang dari lonjakan-lonjakan besar yang sporadis. Ia justru lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus, hari demi hari.
James Clear, penulis buku Atomic Habits, menekankan hal ini. Katanya,
Sistem yang baik itu mempertimbangkan energi kita, bukan cuma menggebu-gebu mengejar ambisi.
Burnout: Tamu yang Tak Diundang
Burnout nggak datang tiba-tiba seperti angin lalu. Ia adalah tamu yang diam-diam menumpuk satu per satu. Ia adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang ekstrem, buah dari stres kronis yang berkepanjangan biasanya terkait pekerjaan atau tuntutan hidup.
Ia adalah akumulasi. Dari tidur yang selalu kurang sejam. Dari batas antara kerja dan istirahat yang kabur. Dari tekanan sosial yang dipendam sendirian, tahun demi tahun.
Sayangnya, banyak anak muda menganggap burnout sebagai tanda kelemahan pribadi. Padahal, seringkali ia justru tanda bahwa seseorang terlalu lama berusaha kuat sendirian.
Artikel Terkait
Indonesia di BOP Trump: Diplomasi Berani atau Langkah Terburu-buru?
Ironi Dewan Perdamaian: Serangan Gaza Malah Meningkat, Indonesia Tegaskan Komitmen
Prabowo Buka Pintu Istana untuk Wajah-Wajah Kritis
Tiga Ribu Personel Dikerahkan untuk Berantas Pelanggaran Nekat di Jalanan Jakarta