"Tidak ada kebocoran, operasional kami juga berjalan normal. Tim tanggap darurat kami langsung ambil action," tegas Ajeng.
Dia menambahkan, pihaknya telah melakukan pengecekan udara di area sekitar untuk mengantisipasi dampak lebih jauh. "Tidak ada kelalaian SOP kerja juga, dan akan kami pastikan tidak akan ada kejadian seperti ini lagi," imbuhnya.
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, perusahaan belum memberikan klarifikasi lebih rinci tentang asal-usul asap kuning kecokelatan tersebut.
Respons DLH: Pasang Alat Pantau
Merespons kejadian ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon tak tinggal diam. Mereka langsung turun tangan melakukan pemeriksaan. Langkah konkret yang diambil adalah memasang empat unit alat pemantau udara di area pabrik.
Kepala DLH Kota Cilegon, Sabru Mahyudin, menjelaskan tujuan pemasangan alat itu sederhana: memastikan keamanan warga. Mereka ingin memantau apakah ada cemaran udara berbahaya yang mengancam.
"Terkait sifatnya berbahaya atau tidak, hal ini yang nanti akan ditindaklanjuti dari hasil monitoring," jelas Sabru. "Apakah sesaat atau memang berkelanjutan (dampaknya)."
Kini, warga setempat tampaknya masih menunggu dengan was-was. Mereka berharap hasil pemantauan DLH bisa memberikan kepastian dan kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.
Artikel Terkait
Red Notice Interpol Mengekang Ruang Gerak Buronan Korupsi Riza Chalid
Remaja 15 Tahun di Cianjur Diduga Sodomi dan Lecehkan 10 Anak Kecil
Khamenei Peringatkan AS: Perang di Iran Akan Jadi Konflik Regional
Interpol Akhirnya Terbitkan Red Notice untuk Riza Chalid Setelah Proses Alot Empat Bulan