Bencana Ekologis: Ujian Terberat Kedaulatan di Era Modern

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 20:06 WIB
Bencana Ekologis: Ujian Terberat Kedaulatan di Era Modern

Di Indonesia, konsep ini sebenarnya sudah ada dalam doktrin Astagatra, yang memadukan Trigatra (sumber daya alam, geografi, demografi) dan Pancagatra (aspek sosial-politik). Kerusakan lingkungan secara langsung melumpuhkan Trigatra. Bencana di Sumatera adalah contoh nyata bagaimana pengabaian terhadap gatra geografi dan sumber daya alam pada akhirnya melemahkan ketahanan nasional secara keseluruhan.

Paradoks Regulasi dan Mentalitas Reaktif

Dalam teori pertahanan yang baik, prinsip pencegahan (preventive defence) adalah segalanya. Artinya, negara harus mampu membaca dan mengatasi ancaman sebelum krisis meledak. Tapi pola pikir kita? Masih sangat reaktif. Negara baru bergerak setelah banjir bandang menerjang, setelah longsor menimbun desa.

Ini paradoks. Regulasi lingkungan kita sebenarnya cukup lengkap di atas kertas. AMDAL, perizinan, semuanya ada. Tapi di lapangan, itu semua sering jadi formalitas belaka. Pengawasan lemah, sanksi tak pernah benar-benar ditegakkan.

Pola reaktif ini berbahaya. Ia menormalisasi kerusakan dan secara perlahan menggerogoti kewibawaan negara. Data Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2025 menunjukkan zona merah banjir dan longsor tersebar hampir di seluruh Nusantara. Ini jelas ancaman struktural, bukan musiman. Wilayah padat penduduk dan ekonomi justru paling rawan, pertanda kegagalan tata kelola ruang yang akut.

Bencana semacam ini tak hanya memakan korban jiwa. Ia memutus jalur logistik, memicu migrasi paksa, dan menyulut konflik sosial. Ini adalah pelemahan pertahanan dari dalam, yang justru lebih sulit diatasi daripada ancaman invasi.

Lalu, Apa yang Harus Diubah?

Pertama, ekologi harus secara resmi masuk dalam agenda strategis pertahanan nasional. Kedua, fungsi pengawasan lingkungan harus diperkuat, diberi sumber daya memadai, dan independen. Ketiga, partisipasi masyarakat sipil dalam mengawasi lingkungan jangan dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra yang vital.

Di sisi lain, gerakan lingkungan hari ini adalah bentuk patriotisme yang paling konkret. Mereka yang berdiri menentang perusakan hutan atau pencemaran laut bukan pengganggu. Mereka adalah pengingat, agar negara tidak tuli terhadap jeritan alam dan rakyatnya sendiri.

Pada akhirnya, kedaulatan sejati tidak diukur dari seberapa banyak sumber daya yang kita gali, tapi dari seberapa mampu kita menjaganya untuk generasi mendatang. Tanpa ekologi yang lestari, fondasi pertahanan kita rapuh. Dan tanpa fondasi itu, semua wacana tentang kedaulatan hanyalah jargon kosong di tengah banjir dan longsor yang terus datang.


Halaman:

Komentar