Pengawasan Pasar Modal Gagal, Terancam Penurunan Status oleh MSCI
Manipulasi Harga Saham, Kerugian Investor, dan Implikasi Sistemik terhadap Pasar Modal Indonesia
Anthony Budiawan
Political Economy and Policy Studies (PEPS)
31 Januari 2026
Policy Paper
Sudah lebih dari dua puluh tahun, pasar modal kita dihantui oleh kejahatan kerah putih yang nyaris terbuka. Manipulasi harga, transaksi orang dalam, rekayasa likuiditas semua itu bukan lagi rahasia. Praktik-praktik ini, sayangnya, telah merugikan banyak pihak. Bukan cuma investor kecil yang gigit jari, tapi juga institusi besar yang mengelola uang rakyat: dana pensiun, asuransi, reksa dana. Kerugiannya tidak main-main.
Nah, di sini letak masalah utamanya. Persoalan di Bursa Efek Indonesia bukan semata-mata pada oknum pelakunya. Akar yang lebih dalam justru ada pada sistem pengawasannya yang bobrok. Sudah lama, dan bersifat struktural. Mekanisme deteksi dini lemah, penindakan selalu terlambat, dan efek jera nyaris tidak ada. Alhasil, terciptalah lingkungan yang secara de facto membiarkan manipulasi harga saham tumbuh subur.
Konsekuensinya? Jauh lebih serius dari sekadar angka kerugian. Lambat laun, kredibilitas pasar modal kita terkikis. Baik di mata investor dalam negeri maupun pemain global. Bahkan, posisi Indonesia dalam penilaian lembaga indeks besar dunia seperti MSCI pun ikut terancam. Reputasi kita dipertaruhkan.
1. Pasar Modal dan Distorsi Fungsi Ekonomi
Idealnya, pasar modal itu kan mekanisme alokasi modal yang efisien dan transparan. Harganya harus mencerminkan kinerja fundamental perusahaan, prospeknya, risikonya. Itu teori.
Kenyataannya? Seringkali lain. Di Indonesia, pasar modal malah kerap jadi ajang cari untung dengan cara yang nggak benar. Melanggar aturan, memanipulasi harga dengan sengaja. Distorsi ini bukan cuma selip teknis biasa. Ia sudah membentuk pola perilaku yang berulang, bahkan bisa ditebak.
Dua pelanggaran yang paling merusak adalah transaksi orang dalam dan manipulasi harga. Dari dua ini, manipulasi harga dampaknya lebih luas. Kenapa? Karena ia menciptakan harga palsu yang menyesatkan semua orang di pasar, bukan cuma mereka yang punya informasi khusus.
2. Manipulasi Harga Saham: Pola dari Hulu ke Hilir
2.1 Rekayasa Harga di Pasar Perdana
Tanda-tanda manipulasi sering muncul sejak awal, saat IPO. Harga saham perdana kerap ditetapkan jauh melambung di atas nilai wajar perusahaannya. Ambil contoh kasus GoTo. Permintaan tinggi yang terlihat saat penawaran, seringkali cuma rekayasa. Dibuat agar terkesan oversubscription, padahal itu permainan alokasi dan partisipasi pihak tertentu.
Setelah dicatatkan di bursa, harganya lalu didongkrak naik secara agresif di pasar sekunder. Sering tanpa dukungan kinerja keuangan yang memadai. Kenaikan tajam ini membangun narasi palsu: bahwa saham IPO selalu menguntungkan. Siklus penawaran berikutnya pun menguat, meski dasarnya tetap manipulasi.
2.2 Pasar Sekunder dan Fenomena Saham “Gorengan”
Ini arena utamanya. Di pasar sekunder, harga saham digoreng naik dalam waktu singkat, bikin euforia, lalu jebret! runtuh tajam. Balik ke titik awal, atau malah anjlok ke batas terendah bursa.
Saat jatuh, pola kerugiannya timpang banget. Pelaku manipulasi sudah duluan keluar dengan kantong penuh. Sementara investor yang masuk belakangan biasanya investor ritel terjebak. Sahamnya nggak likuid, nilainya tinggal separuh, atau malah nol.
Artikel Terkait
Kabel Semrawut di Trotoar Karet, Warga Waswas Setiap Melintas
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama
Kendali Trump Tergelincir, Netanyahu Diduga Kendalikan Gedung Putih Lewat DOJ
Balochistan Berdarah Lagi: 47 Tewas dalam Serangan Terkoordinasi