"Kenapa hedge fund masuk ke emerging market yang isunya banyak, yang otoritasnya dianggap lemah? Karena dia tahu, 'otoritas di sini mana berani sama gue?'" tegas Yanuar. "Jadi artinya, saya ingin bilang, jangan jadi serigala berbulu domba lah."
Kekhawatiran yang disuarakan MSCI itu, rupanya langsung ditelan pasar sebagai sinyal sell. Aksi jual, terutama di saham-saham besar dan liquid, terjadi hampir serentak. Tekanan jual yang begitu masif itulah yang akhirnya memaksa BEI menarik tuas penghentian perdagangan sementara.
Yanuar bahkan melihat ini dalam lensa yang lebih luas. Situasi dunia sekarang, katanya, mirip era 80-an dimana perang ekonomi dan perebutan sumber daya jadi senjata. Karena itu, ini harus jadi alarm keras.
Terutama bagi pemerintahan baru. Presiden terpilih Prabowo Subianto, menurutnya, tidak boleh meremehkan permainan kekuatan hedge fund global di pasar keuangan dalam negeri.
Di sisi lain, Yanuar melihat langkah diplomasi Indonesia belakangan ini justru memberi pesan berbeda.
"Dengan masuknya Indonesia ke Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump, dan sikap tegas kita soal Israel, kesan saya Presiden Prabowo sedang menyampaikan pesan: 'kita dibantu, jangan dihantam'," pungkasnya.
Jadi, riuhnya pasar saham kemarin bukan cuma soal angka yang merah. Tapi juga soal pesan-pesan terselubung dan perang narasi di tingkat global. Dan kita, sekali lagi, ada di tengah-tengahnya.
Artikel Terkait
Kabel Semrawut di Trotoar Karet, Warga Waswas Setiap Melintas
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama
Kendali Trump Tergelincir, Netanyahu Diduga Kendalikan Gedung Putih Lewat DOJ
Balochistan Berdarah Lagi: 47 Tewas dalam Serangan Terkoordinasi